Tuesday, August 25, 2009

Selamat Pagi Atambua

Selamat Pagi... Kalimat itu mestinya sudah terucap sejak 5 jam yang lalu. Karena, nyatanya sudah ada manusia yang bangun lebih cepat dari ayam-ayam , seperti yang terjadi dengan banyak pedagang kecil di sekitar terminal Lolowa, berjualan mengadu untung malang disana.

Thursday, August 13, 2009

Hari Merdeka Nusa Dan Bangsa

Puluhan pasukan sipil bergerak dinamis membentuk formasi barisan, melaju pasti di sepanjang jalan besar di Kota Atambua, Finish di Lapangan Umum Atambua.
Masyarakat menonton dengan caranya sendiri. Seperti tidak mau kalah, mereka juga membentuk barisan tidak formal di pinggir-pinggir jalan. Sambil berteriak menyoraki setiap kontingen yang lewat di depan mereka.

Wednesday, August 5, 2009

“Tempat Tidur” juga cita-cita !

Kalimat pendek itu terungkap kemarin sore, 4 Agustus 2009. Bersama karibku, diskusi banyak hal dari mulai eksistensi LSM di Belu sampai dengan urusan para donatur, masalah sosial, politik.. yah.. macam-macam. Saat diskusi masuk ke aplikasi program komputer, kami lantas bergegas menyiapkan perangkatnya mulai dari Monitor, CPU, Mouse, Keyboard yang memang paginya diungsikan ke kamarku karena sedang ada kegiatan pembersihan di ruang tengah, tempat biasanya komputer mangkal. Begitu melihat kamarku, komentar pertama karibku meluncur lugas, begini katanya ; “Dari bentuk tempat tidur, sepertinya sudah saatnya untuk tidak hidup sendiri he.. ! saya hanya tersenyum. Maklum kami sama-sama masih alone, situasinya persis seperti kata Oppie Andaresta, “I’am single and very happy”... Mulai dari alas koran, tikar, balai bambu, bangku, papan, spon, karpet, permadani, kursi sofa, media pasir, atau apapun sebutannya, fungsi lazimnya dipakai untuk tidur. Meski, dalam tidur, orang sering tidak benar-benar tidur. Sebagian mungkin serius tidur. Tidur bukan sekedar rutinitas, karena kebiasaan, tapi setiap orang butuh. Tidur penting untuk kesehatan, lahir bathin. Selain karena badan juga butuh istirahat, otak dan bathin sering ikut-ikutan istirahat saat tidur. Jadi kalau bukan cita-cita, apa namanya? Tidur itu sebuah kemestian, yang penting bukan tidur panjang. Karena jenis yang satu ini, urusannya abadi alias selama-lamanya, tidak bangun-bangun lagi. Yang sering jadi soal barangkali tempatnya. Boleh jadi, orang bisa salah kaprah menggunakan “tempat” untuk tidur. Di bangku bis, emper toko, ada orang mengantuk dan bisa tertidur, dan banyak tempat lainnya yang sering jadi “korban” orang yang lagi ngantuk untuk tidur. Tapi tidak apa, begitu tidur, segala persoalan di muka bumi ini, lenyap seketika. Bahwa begitu bangun, orang akan pening lagi karena ada banyak masalah, itu urusan belakangan. Kawanku lantas nyelutuk lagi, “yah...dari sana juga biasanya kehidupan dimulai.. kami lantas tertawa bersama.. dan saya tidak berniat untuk membahasnya, karena kami berdua saling memahami jalan pikiran selanjutnya. Dan boleh jadi, pembacapun memakluminya sambil tersenyum diam-diam. Blok M (Motabuik), 4 Agustus 2009. Makasih Wain Reu Jack.

Thursday, July 30, 2009

Jalan Ini Bukan Setapak (untuk Fransiskus Nahak dan anak-anak Indonesia lainnya)

Meski tidak berbatu Hanya ada kerikil tajam Tapi tetap keras tanpa alas kaki...

Dua puluh tahun lalu, popularitas Iwan Fals menanjak karena hampir semua lagunya bertema kritik sosial. Masa-masa dimana banyak orang sedang jenuh dengan kemapanan.

Salah satu judul lagunya bercerita tentang Si budi kecil, judul lagunya sore tugu pancoran. Cerita tentang Budi Kecil, yang mestinya ada dibangku sekolah setiap jam 7 hingga pukul 13.15 waktu tengah hari, namun tidak demikian kenyataannya.

Monday, July 27, 2009

Dua Sahabat

Keduanya bekerja di tempat yang sama saat kutemui tadi pagi secara tidak sengaja, Yang satunya Satpam, seorangnya lagi Supir.
Yang Satpam tetangga lamaku, sedangkan yang supir, teman kelas waktu SMP dulu. Setelah sekian lama tidak berjumpa, ini pertama kali dalam tahun 2009 aku bertemu dengan mereka. Teman Satpamlah yang pertama aku temui, setelah salaman kami saling bertukar kabar. Ia lantas menawarkan bantuan seperlunya,... syukurlah, urusanku lebih cepat dari biasanya.
Sambil duduk menanti giliran dipanggil teller, sobatku yang supir muncul, sedikit kaget tapi dengan cepat menawarkan bantuan kepadaku. Aku tersenyum. Sambil berjalan pulang, aku masih berpikir tentang kebaikan dua orang sahabatku tadi. Yang sama menawarkan bantuan buatku ; hal baik yang aku terima hari ini. Benar kata Joko Susilo, sang maestro blog dan webside, “Berteman dengan siapa saja, karena teman bisa membantu kapan saja dalam susah maupun senang. Jadi, tetaplah menjaga pertemanan, karena pasti akan bermanfaat, sekarang atau kapan saja saat dibutuhkan.
Atambua, 27 Juli 2009

Timevalue Of Your Self

Berapa nilai dari waktu anda dalam satu jam ? Seribu rupiah, Sepuluh ribu, Seratus Ribu atau Satu juta rupiah ?.... “Banyak orang muda tidak mudah menyerah dan berusaha untuk bekerja keras karena menghargai waktunya dengan baik. Faktanya, banyak orang meremehkan nilainya dengan tidak bekerja, sampai-sampai pada saat jam kerja ; ada oknum PNS melenggang bebas tanpa beban di Mall-Mall. Hanya itu potongan kalimat yang masih bisa aku ingat dari seorang Mario Teguh di Metro TV kemarin malam (26/07/09). Hmm, nilai waktu dari seseorang ?. Seberapa besar seseorang menghargai dirinya dan waktu, kira-kira begitu maksudnya. Sekedar mengira-ngira; fakta bahwa orang yang tidak bisa menghargai nilai waktu dari dirinya, dicirikan dengan kebiasaan melepaskan waktu berlalu begitu saja setiap hari tanpa berbuat sesuatu. Hal ini, bisa jadi diakibatkan oleh beberapa faktor, malas atau tidak paham dengan tugasnya dalam bekerja. Dalam sebuah diskusi Nusantara di TVRI tahun 2009 ini, Siswono Yudohusodo pernah mengatakan bahwa “Orang bisa berbahagia jika bisa bekerja, karena dengan bekerja, seseorang bisa meningkatkan kualitas hidup dirinya dan keluarganya” ..well, itu hal luar biasa, pikirku. Ini benar-benar sebuah pertemuan pemikiran yang apik antara Siswono di waktu lalu, dan Mario Teguh malam tadi. Setidaknya, Mario Teguh bisa membangkitkan semangat orang muda untuk terus bekerja keras sebagai jalan untuk memberi nilai bagi waktunya dan Siswono lebih memberi harapan bahwa sesungguhnya dengan bekerja setiap orang bisa berbahagia. Maka ; mulailah bekerja. Untuk hal apa saja, sekecil apapun itu nilainya, mudah-mudahan bisa mendorong setiap kita untuk lebih bisa bekerja lebih keras lagi. Sekian. Atambua, 27 Juli 2009

Sunday, July 26, 2009

Ijasah Palsu Anggota DPRD Belu Terpilih 2009

Meski itu baru dugaan, aksi Demo mahasiswa berlangsung pukul 10 pagi, 22 Juli 2009 lalu, di bilangan lampu Merah Toko Pelita mampu membangunkan Kota Atambua. Orasi Mahasiswa Demo yang bergabung dalam FPPD (Forum Peduli Penegakan Demokrasi) baru berlangsung 1 jam, aksi long march yang menempuh rute Depan Pelita - Kantor KPU ternyata hanya berlangsung sampai di bilangan Tini. Rombongan aksi yang sedang berjalan kaki, tiba-tiba diangkut Satuan Polres Belu, lantas digelandang di Mapolres Belu. Karenanya, aksi tidak kantongi izin. Padahal, sumber resmi FPPD menyatakan bahwa surat pemberitahuan aksi sudah diajukan ke Polres Belu. Tetapi ijin, tidak terkonfirmasi antar pihak sampai peristiwa tersebut terjadi. Alih-alih, pada sore harinya, urusan di Polres selesai ; mahasiswa dibolehkan pulang. Soal kita hari ini bukan itu. Tapi tentang Ijazah Palsu. Ini memang bukan kasus baru di NTT, karena sudah pernah ada kejadian, cuma beda latar sejarah saja. Hal begini sudah pernah kami diskusikan. Sangat disayangkan, jika terbukti benar, Sang Anggota Dewan Terpilih, entah sadar atau tidak sedang bermain-main dengan sebuah Dokumen negara bertitel Ijazah SMP dan Ijasah SMA. Faktanya, diduga kuat, Ijazah SMP sang Dewan terpilih dipalsukan. Sudah begitu, Ijasah SMA-nya ; berupa ijasah Paket C jebolan sebuah sanggar di Kota Kupang. Itupun, masih diragukan kebenaran hakikinya. Saya jadi ingat, seloroh karibku, begini katanya, " Kalau diselatan, kami menyebutnya "Bete Paket!"... Lantas ada apa dengan ini semua.... JIKA MEMANG TERBUKTI BENAR.. Pertanyaan boleh jadi kemana-mana, tapi biar tidak meluas seperti laut Timor, ada baiknya; pertanyaannya kita ajukan saja kepada para pihak yang menurut ketentuan UU ; bekerja untuk maksud dan tujuan terpilihnya anggota DPRD Belu. Sebut saja KPUD Belu, boleh jadi Tim Verifikasinya tidak begitu awas dalam menyelidiki bukti-bukti diri para calon Dewan (tahun 2008); lantas tidak sengaja meloloskan oknum yang bermasalah dengan ijasah yang menjadi salah satu syarat mutlak (karena dicantumkan dalam UU) ; atau kawan-kawan kita di Panwaslu tidak dapat laporan ; lantas setelah lewat masa pemilu ; Polres Belu tidak tertarik untuk menangani kasus ini. dengar-dengar, Pak Kapolresnya tegas menolak memproses karena sedianya diproses di Mahkamah Konstitusi. Wallahu alam.... Bola Panas ini masih bergulir... Pembaca boleh ikut berpartisipasi di poling.. siapa tahu jalan pikiran kita tidak sama... selalu tersedia ruang untuk diskusi. Terima Kasih

Minggu Akhir Juli 2009

Sore ini aku datang ke warnet tidak sendirian, sepupuku minta ikut untuk belajar bermain di internet...
Saya pikir itu baik, karena ia guru di salah satu SD di Atambua. sambil mencari informasi RPP dll, kami lantas diskusi pendek begini..
Dia kelihatan heran karena, Buku Pelajaran dan bahan ajar yang mestinya dipakai siswa-siswa di sekolah ternyata banyak tersedia di Intenet. "orang tua tidak perlu repot cari buku di toko-toko"... yah, Dinas mestinya bisa memfasilitasi kebutuhan seperti ini ke sekolah-sekolah, dan bukannya meminta orang tua bertawar ria di toko-toko.
Komenku pendek saja " Dinas belum pikir tentang itu". Satu jam, dia sibuk dengan dunia "para bahan". Aku melirik sebentar, kali ini dia sudah sampai di BS-e alias Buku Sekolah Elektronik.. selamat berdownload ria..

Friday, June 26, 2009

OPA KIN dan Very.

Orang tua itu bernama opa Kin. Semua orang mengenalnya. Bahkan hampir diseluruh pelosok kota kami. Yang kami tahu, opa Kin itu orang baik. Opa Kin suka Menolong. Opa Kin juga orang yang rendah hati. Opa Kin orang yang murah senyum. Aku berteman baik dengan Opa Kin.

Anak-anak seusiaku di kampung kami pasti mengenalnya. Rumahnya persis di simpang tiga. Dekat dengan sekolah kami. SD Budi Luhur. Setiap pulang sekolah, kami selalu bertemu dengan Opa Kin. Biasanya, Opa Kin akan melambaikan tangannya. Biasanya, Opa Kin akan bertanya dengan setengah berteriak. "Pelajaran apa hari ini, Boy ??.... Opa Kin akan bersemangat sekali. Wajahnya, selalu tersenyum, setiap kali bertanya. " Kemudian, kami akan segera menghampiri Opa Kin. "Ada pelajaran PPKN." Opa !, sahut kami beramai-ramai. "Nanti sore main kesini ya... !" pinta Opa Kin. Opa Mau cerita tentang sekolah kalian. Mendengar itu, kami semua langsung mengangguk kepala. Tanda setuju.

Jam lima kurang tujuh menit. Kami sudah berkumpul di beranda rumah Opa Kin. Opa Kin hanya memakai sarung. Ada sebuah kopiah tua dikepalanya. Ada bintangnya juga. Kelihatannya gagah sekali. Belum lama kemudian. Ebbi yang datang lebih dulu sudah bertanya. " Opa. Itu kopiah model apa sih ??, tanyanya penasaran. Kok, Opa Pakai Kopiah segala ?... Opa Kin hanya tersenyum kecil. Opa Kin tidak langsung menjawab. Opa Kin lebih dulu memandang kami semua. Seperti sedang menghitung jumlah kami. " Very mana ya, mengapa tidak datang ?, apakah Very sakit ?, sudah dua minggu ini, Opa tidak lihat Very lewat dirumah Opa ?", tanya Opa penuh selidik.

Namaku, Deni Saja!

Namaku, Deni Saja. Pagi ini. Hari ketiga untukku di sekolah baru. Aku duduk sendirian di bangku. Ah... perasan kikuk mulai berkurang. Aku sudah mempunyai beberapa orang teman. Ada Devi, Nona, Theresia dan Selvy. Selvy sering dipanggil si pirang. Dia yang paling pendiam diantara teman-teman sekelasku yang lain. "Hey...", tiba-tiba ada yang menepuk bahuku dari belakang. "Pagi-pagi sudah melamun", sambungnya, Kenapa ?, kamu sakit ?.

Ah... anak ini tidak berhenti bertanya. "Tidak !" jawabku singkat. Tapi Devi sudah pergi ke tempat duduknya, seperti tidak ingin mendengar jawabanku. Aku membuat seperti tidak terjadi sesuatu. Padahal, aku begitu kuatir, kalau-kalau si Pengacau, Deny itu tiba-tiba muncul. "huhhh..., menjengkelkan. Aku melamun sambil memandangi Devi, teman yang mengejutkan lamunanku tadi.

Semua orang sudah tahu tabiat Deny. Deny terkenal karena bengalnya. Hampir separuh anak di kelas kami, sudah pernah dibuat menangis. Ada-ada saja ulahnya. Apa lagi ada anak baru. Menurut cerita teman-teman, Deny paling paling tidak suka dengan anak baru. Katanya dapat merebut perhatian orang darinya.Deny sudah sering kali dibicarakan dalam rapat guru-guru. Akibatnya, sudah sering kali juga surat teguran melayang ke rumah Deny.

Wednesday, June 24, 2009

Mambangun Dunia Sendiri

Riskan memang berpikir untuk membangun dunia sendiri. Tetapi apa boleh buat. Dunia ini beragam.
Dan rasa-rasanya kita bisa pening bila diajak untuk membangun dunia ini bersama. Karena setiap orang hadir dengan dunianya sendiri. Cara mereka melukiskan, mendefenisikan bahkan mengaktualisasikan.

Setiap orang punya cita rasa bahkan apresiasi yang berbeda-beda tentang dunia. Yang sama mungkin mungkin ada kesan lahir, kawin (bagi yang sempat) lalu berjuang untuk hidup, lalu mati. Orang karena kebutuhan membangun dunianya telah pula menemukan jalan masing-masing.

Dunia yang akan kita bangun tidak bisa berdiri sendirian. Bisa jadi mirip sarang laba-laba, tergantung dan menjaring dunia lainnya. Dunia siapapun, tetap terdiri dari ribuan segmen kehidupan, komplit dengan segmen-segmen masalah plus peluangnya. Entah dengan alasan apapun.

Monday, June 22, 2009

About this evening..

Salam Netter sekalian... Sore ini saya mampir ke warnet... rekan setiaku, Bung Primus duduk persis di sebelahku.. belum ada 10 menit, teman lamaku datang... Bung Jack... kami diskusi sebentar.. dan ada seloroh lugasnya dengan tatapn tetap lurus kedepan... bunga-bunga kecil disamping kiri dan kananku nyaris tidak dipedulikanntya.. Begini katanya " habis terima amplop gini, makin banyak yang seksi2 dan indah.. " eh, saya kok jadi ingat lagu pelangi-pelangi. ada bait yang terungkap "pelangi-pelangi alangkah indahmu.... .Nah, itu dia... pelangi-pelangi sekarang ada disini nih, cuma ada batas tripleks doang, lagi pada sibuk intenetan... sementara di jauh sana, adik seperjuanganku : Bung Vinsen ngirim berita tentang Ende. Kota Revolusi kami semua. Salam Merdeka untuk teman-teman disana !. lanjutnya nanti saja..

Friday, June 5, 2009

Atambua, 5 Juni 2009

Ada kurang lebih 2 bulan tidak datang ke "rumah bersama"; tadi untung ada Om Leon datang menjemput, terus kami ke kesana.
Musim legislatif baru saja usai, menyisakan begitu banyak pesan dan juga kesan. Ekspresinya beda-beda, tapi cukup punya alasan untuk menggambarkan situasi batin masing-masing orang yang pernah ikut bermain di musim kompetisi itu.

Monday, June 1, 2009

Tentang Sebuah Lukisan

Seorang anak bangun pagi-pagi sekali. Masih jam 4 dini hari. Ia terbangun karena dihampiri wajah seseorang dalam mimpi. Sebut saja ini mimpi nan indah. Karena ia tidak bisa melupakan raut wajah itu, segera batinnya menyuruh untuk membuat sebuah lukisan tentangnya.

Untuk itu, Ia tidak perlu menunggu lama untuk mandi, apalagi sarapan.  Di depan kanvas, ia sibuk mencampur-campur warna, terseok-seok memutar-mutar posisi berdiri, duduk, setengah tidur sambil meliuk-liukan kuas kesana kemari.

Hampir setengah hari ia melukis dengan konsentrasi tingkat tinggi. Bagi anak ini, Lukisan adalah karya maha dasyat yang bisa membuat hidupnya berubah.  Dasar bukan pelukis. Praktis ia sama sekali tidak bisa membuat lukisan indah seperti dalam mimpinya. Bahkan jauh sekali dari mimpinya. Apa yang ia tampilkan setelah setengah hari bekerja adalah tampilan sebuah wajah yang gersang, kering, yang lebih menyebalkan ternyata ia melukis wajahnya sendiri (Yang notabene sudah bosan hampir dilihatnya tiap hari di depan cermin).

Hal Keteduhan

Saudara yang baik, Salam sejahtera. Pagi ini masih ada cerita,semoga tidak jenuh.

Suatu ketika seorang Rahib datang ke rumah seorang Yahudi. Dan hari ketika ia datang itu, hari Sabtu. Kebutuhan sang Rahib kali ini adalah meminta pertolongan sang Yahudi untuk membantunya, membuatkan tempat berteduh. “Bu bisa Tolong beta ko!, ini agak darurat. Su mulai ujan, ma atap belum kelar, bisa bantu ko?, pinta agak menghiba dengan dialek Rotenya. Sayang sekali permintaan Sang Rahib tidak terkabul, Sang Yahudi tidak bisa banyak membantu. Ia hanya menjawab pendek “Bu ju datang sonde tau waktu na, ini hari batong ada ibadat. Sorri, sonde bisa diganggu, lain kali sa. Sebabnya, hari itu, hari sabtu. Seperti biasa sang Yahudi yang penganut fanatik Taurat tidak bisa melakukan sesuatu apapun pada hari Sabat itu.

Ketika pulang, sang Rahib Gelisah. Dan ia berdoa memohon ampun pada sang Pencipta untuk memberinya kesempatan bukan untuk siapa-siapa. Tetapi yang pertama-tama bagi dirinya sendiri, untuk bisa mengusir Kegundahan batinnya. Bagi Sang Rahib kalau kegalauan terus menghantuinya, itu sebuah dosa besar. Ada benarnya, karena hari itu ia tidak beroleh keteduhan. Ia berharap beroleh keteduhan dari sahabatnya melalui pertolongan sahabatnya si Yahudi tadi. Apa boleh buat, ia terganjar aturan main hari Sabat.