"Bukan Senin yang kita benci, melainkan hidup yang rela (atau terpaksa) kita ulangi.”
Eng di Kuneru, 19 Januari 2026
“Catatan dari pinggir, tentang Hidup, manusia dan sekitarnya, ragam tema di Indonesia yang berjalan (masih) perlahan.”
"Bukan Senin yang kita benci, melainkan hidup yang rela (atau terpaksa) kita ulangi.”
Eng di Kuneru, 19 Januari 2026
Hari Minggu rasanya tidak pernah
benar-benar berubah.
Ia datang lagi, dengan cara yang sama. Tenang, pelan, dan setia. Tidak
terburu-buru.
Dan entah mengapa, selalu tinggal
lebih lama di batin.
Atas nama pesan tentang hubungan manusia dengan Pencipta-Nya, tentang manusia
dengan sesamanya, pula tentang manusia dengan tempat di mana kita hidup.
Lalu mengalir ke muara kerinduan untuk pulang kepada perintah-Nya.
Bukankah kita sungguh ada pada-Nya
setiap hari?
Dalam doa singkat, dalam ucapan syukur di saat senang, dan keluhan yang terucap
diam-diam.
Dia yang tidak terlihat itu, rasanya sedang ada di hadapan kita, menyaksikan
akrobat hidup yang kita kerjakan.
Hari Minggu, hari baik untuk belajar
berserah tanpa menyerah.
Belajar untuk yakin dan percaya tanpa harus memahami segalanya.
Belajar untuk pulang kepada-Nya, meski langkah kaki masih mengurai bumi, namun
hati kita tahu ke mana ia harus kembali.
Lalu mengapa Hari Minggu terasa
begitu lebih spesifik, begitu berbeda?
Boleh jadi, di hari yang “Minggu”
ini, kita berhenti sebentar.
Bukan untuk menjauh dari dunia, tapi untuk berada lebih dekat kepada-Nya.
Karena menurutku, perjumpaan dengan-Nya tidak mesti selalu ramai.
Segala urusan hidup yang terlampau hiruk-pikuk itu, menjadi sunyi di
hadapan-Nya.
Dan dari sanalah kita disiapkan.
Untuk melewati satu menit ke depan, satu jam lagi, satu hari, atau sesuatu yang
bahkan belum terpikirkan.
Karena hidup bisa berubah kapan saja.
Hari Minggu mengingatkan kita akan itu, tanpa rasa takut.
Hari untuk mempersiapkan segala
sesuatu.
Menguatkan tujuan, cita-cita, dan harapan hidup.
Hari Minggu, hari baik untuk membawa
kita semua pulang kepada keluarga masing-masing;
suami kepada istri, istri kepada suami, anak-anak kepada orang tua, pun
sebaliknya.
Juga kepada sesama sanak saudara dan saudari.
Karena setiap kita berasal dari keluarga, tempat bersandar dan saling menopang
di dunia yang keras ini.
Semua kita akan melewati hari-hari
itu.
Menapaki satu minggu yang akan datang dengan iman yang diperbarui,
dengan asa yang tetap bernyala,
dan pengabdian yang tetap bernyawa.
Tuhan sertamu selalu.
Salam sejahtera…
Eng di Kuneru, 18 Januari 2026
Sejak lama, emas telah menempati posisi istimewa dalam kehidupan manusia. Emas bukan sekadar logam mulia, tetapi simbol nilai, kepercayaan, dan ikatan. Cincin perkawinan terbuat dari emas. Mahar perkawinan lebih didominasi produk emas. Diberbagai budaya, peristiwa-peristiwa penting dalam hidup hampir selalu “diikat” dengan emas.
Pertanyaannya
kemudian sederhana namun menarik, “mengapa
emas terus bertahan, bahkan cenderung naik nilainya dari waktu ke waktu?”
ilustrasi emas sebagai simbol nilai dan waktu dalam genggaman manusia
Bukan hanya dalam tradisi, emas juga hadir dalam dunia modern. Hampir semua perangkat elektronik, telepon genggam, laptop, televisi, PC, mengandung komponen emas dalam jumlah kecil. Itulah sebabnya para pekerja rongsokan rajin mengumpulkan perangkat elektronik bekas. Emas dipilih bukan tanpa alasan: ia konduktor yang sangat baik, tahan korosi, dan memiliki kualitas tinggi yang sulit digantikan. Itulah makanya, emas adalah standar mutu, secara simbolik maupun fungsional.
Jika kita menoleh
ke belakang, mencermati sejarah perkembangannya, ada satu hal yang relatif konsisten dalam
sejarah ekonomi dunia yakni kecenderungan
kenaikan nilai emas dalam jangka panjang. Meski dari sisi harga, kadang naik
dan turun dalam jangka pendek, emas toh tetap menarik perhatian, baik bagi
investor besar maupun masyarakat umum; karena sejatinya; Emas tetap menanjak
nilainya.
Berikut ini
adalag beberapa alasan, kenapa emas memiliki daya tarik yang begitu kuat?
1. Emas Bukan Sekadar Logam, tapi Simbol Nilai
Sejak ribuan
tahun lalu, emas digunakan sebagai alat tukar dan penyimpan nilai. Berbeda
dengan uang kertas yang dapat dicetak tanpa batas, jumlah emas di dunia
terbatas. Keterbatasan inilah yang memberi emas nilai intrinsik dan membuatnya
relatif tahan terhadap inflasi.
Ketika nilai mata
uang melemah atau kepercayaan terhadap sistem keuangan menurun, emas sering
kali menjadi tempat berlindung alias safe haven, dan ini menjadi pilihan banyak orang.
2. Inflasi dan Ketidakpastian Global
Sepanjang sejarah, manusia selalu hidup berdampingan dengan ketidakpastian: Inflasi, Krisis ekonomi, Konflik geopolitik, Perubahan kebijakan moneter yang sulit diprediksi.
Dalam kondisi
seperti ini, kepercayaan terhadap mata uang atau instrumen keuangan tertentu
bisa goyah. Namun eksistensi Emas, dengan reputasinya yang panjang, hadir
sebagai alternatif yang dianggap lebih stabil. Ketika permintaan meningkat,
harga pun terdorong naik.
3. Peran Bank Sentral dan Investor Besar
Banyak bank
sentral dunia masih menyimpan emas sebagai cadangan negara. Ketika bank-bank sentral
menambah cadangan emas, pasar menangkap sinyal kuat bahwa emas tetap dipandang
sebagai aset strategis.
Hal yang sama
dilakukan investor besar dan institusi keuangan. Saat pasar saham atau obligasi
dianggap berisiko, dana sering dialihkan ke emas. Dampaknya sederhana:
permintaan naik, harga dengan sendirinya mengikuti.
4. Fluktuasi Jangka Pendek vs Nilai Jangka
Panjang
Untuk point ini, penting untuk membedakan dua hal : 1) Fluktuasi jangka pendek (harian atau mingguan), dan 2) Tren jangka panjang.
Harga emas bisa
turun tajam dalam waktu singkat akibat sentimen pasar, perubahan suku bunga,
atau penguatan dolar. Namun jika kita melihat grafik puluhan tahun, arah
besarnya tetap menunjukkan kenaikan. Di sinilah emas dipahami bukan sebagai
alat spekulasi semata, melainkan sebagai pelindung nilai.
5. Relevansi Emas di Era Modern
Di tengah
pesatnya perkembangan teknologi, mulai dari saham digital hingga aset kripto, emas
tidak kehilangan perannya. Justru sebaliknya, emas semakin mudah diakses
melalui berbagai bentuk, antara lain : Emas fisik, tabungan emas, dan kontrak
derivatif dan instrumen trading.
Intinya, Emas
tetap relevan; yang berubah hanyalah cara manusia berinteraksi dengannya.
Penutup
Fenomena kenaikan
harga emas dari waktu ke waktu bukanlah kebetulan. Ia lahir dari kombinasi
sejarah panjang, keterbatasan sumber daya, psikologi manusia, dan dinamika
global.
Memahami emas
bukan soal ikut-ikutan tren, melainkan memahami fungsinya sebagai pelindung
nilai dan alat diversifikasi. Dengan pemahaman yang tenang dan utuh, emas dapat
menjadi bagian penting dalam perencanaan keuangan jangka panjang, berjalan
perlahan, tapi konsisten.
Diatas segalanya,
Nilai emas pasti dan selalu ada di tangan manusia, bukan sekadar
di pasar.
Eng di Kuneru, 16
Januari 2026
Ada masa ketika laman ini sunyi...
Bukan karena tidak ada yang ingin dikatakan, melainkan karena hidup seringkali menuntut kita untuk lebih banyak berjalan daripada menulis. Kata-kata tertahan di kepala, pengalaman menumpuk di dada, sementara waktu terus bergerak tanpa menunggu siapa pun.
Blog ini lahir bertahun-tahun lalu, ketika menulis masih terasa sebagai cara paling jujur untuk berbicara dengan diri sendiri dan dengan dunia. Tidak untuk mengejar jumlah pembaca, apalagi popularitas, melainkan sekadar meninggalkan jejak: bahwa kita pernah berpikir, pernah gelisah, dan pernah peduli, pernah punya cita-cita, dan ini dan terus hidup seusia lamanya hidup.
Hari ini, saya kembali membuka halaman ini dengan kesadaran yang berbeda. Usia bertambah, pengalaman menebal, tetapi banyak persoalan ternyata tidak benar-benar berubah. Pendidikan masih menjadi harapan yang tertatih, keadilan masih sering terasa jauh, dan manusia kecil masih kerap berdiri sendirian di persimpangan hidupnya.
Menulis kembali bukan berarti mengulang masa lalu, melainkan "berdialog dengannya". Apa yang dulu saya tulis, hari ini saya baca ulang—bukan untuk disesali, tetapi untuk dipahami. Jika sebagian tulisan terasa naif, itu wajar. Jika sebagian lain masih relevan, itu justru pertanyaan besar bagi kita semua.
Blog ini akan berjalan pelan. Tidak rutin mengejar algoritma. Tidak sibuk memburu sensasi. Ia akan diisi catatan-catatan kecil tentang manusia, pendidikan, dan kehidupan sehari-hari—dari sudut pandang warga biasa yang mencoba tetap waras di tengah dunia yang bising.
Jika Anda menemukan sesuatu di sini yang membuat Anda berhenti sejenak, berpikir, atau sekadar menghela napas, itu sudah lebih dari cukup.
Kita mulai lagi. Pelan-pelan.
Eng di Kuneru, 16 Januari 2026