Marla, ibu 32 tahun. Kami bertemu beberapa tahun yang lalu karena
urusan kantor. Ia lalu menjadi sahabatku karena ia orang baik, terlalu sering membantu
melancarkan urusan-urusan kantor. Selain
cantik, dia juga luwes dalam bergaul. Kalau dia datang, keceriaan biasanya hadir
mengusir kejenuhan rutinitas kerja.
Di suatu senja, sehabis mengerjakan tugasnya, ia menahan langkahku
untuk segera pulang. Kami lalu bercerita. Banyak hal kemudian terungkap,
mengalir begitu saja, ibu malang ini seperti menumpahkan semua gundah di
hatinya. Aku mendengar sambil sesekali menyela dengan beberapa perkataan agar
dia tetap tabah. Hingga suatu ketika aku akhirnya berujar begini, “Tetaplah
bersyukur dalam susah dan gembira”.

