31
Agustus 1997.
Siang
itu, Hari Minggu. Saya berada di Jakarta. Lebih tepatnya di Wisma Marinda, Jalan Percetakan Negara XI—sebuah tempat
yang pada masa itu juga menjadi salah satu Markas Utama kaum pergerakan. Kala
itu, Pimpinan Nasional Presidium GMNI masih bermarkas di sana. Bung Ayi
Vivananda sebagai Ketua Presidium dan Ahmad Basarah sebagai Sekretaris
Jenderal.
18
Agustus 1997, saya mendapat tugas dari kantor sebagai staf yang dikirim Bappeda Provinsi Nusa Tenggara
Timur, Bidang Fisik dan Prasarana, untuk mengikuti Kursus Geographic Information System
(GIS) di Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan
Nasional—Bakosurtanal—di Cibinong, dalam periode Agustus sampai Oktober 1997.
Kursus lazimnya berlaku Senin sampai Jumat, maka akhir pekan sering saya manfaatkan untuk tinggal di Wisma Marinda, berdiskusi, tambah relasi dan menyerap pengetahuan dari
senior-senior GMNI dan Kelompok Cipayung.
Jakarta
siang itu berjalan seperti biasa. Orang-orang sibuk dengan urusannya. Lalu
kabar duka itu datang, Diana, Princess of Wales, mengalami
kecelakaan di Paris. Seorang perempuan yang selama
bertahun-tahun wajahnya begitu akrab di televisi dunia, tiba-tiba menjadi headline.
Saya
tidak lagi ingat persis jam berapa pertama kali mendengar kabar itu. Yang pasti
itu Hari Minggu, karena malam harinya, saya pulang ke Cibinong, urusan Kursus. Entah
TVRI atau RCTI—ingatan saya tidak cukup kuat untuk memastikan. Yang saya ingat,
esok harinya pada 1 September, di
Mess tempat peserta kursus tinggal, kami nonton bersama program
khusus RCTI “Mengenang Putri Diana” pukul 18.00 dan 21.30 WIB.
Sebuah
nama membuat dunia terdiam kehilangan, Diana, Princess of Wales.
Bagi
sebagian besar orang, ia tetap dikenal sebagai Lady Diana. Perempuan yang masuk
ke dalam keluarga kerajaan Inggris, tetapi kemudian justru dikenal karena
kedekatannya dengan rakyat biasa.
Ia
mengunjungi rumah sakit. Mengulurkan tangan kepada penderita AIDS, persis
ketika penyakit itu masih terbungkus rasa takut dan stigma. Ia mendatangi
anak-anak, korban konflik, dan mereka yang hidup jauh dari kemewahan istana.
Nama Lady Diana, barangkali tidak tersohor karena Istri seorang Pangeran,
Pewaris Tahta Kerajaan Inggris. Putri ini, tampil bersahaja lebih karena watak
kemanusiaan yang diperlihatkan tanpa pamrih “Pencitraan”, satu kata yang kerab
disematkan untuk para pesohor.
Diana
seperti menemukan caranya sendiri untuk menjadi seorang putri.
Bukan
hanya dengan mahkota.
Tetapi
dengan kemanusiaan.
Lalu,
31 Agustus 1997, perjalanan itu berhenti di Paris.
Kabar
kecelakaan di terowongan Pont de l'Alma menyebar ke seluruh dunia. 6 September
1997, jutaan orang memenuhi jalan dan miliaran manusia lainnya menyaksikan
pemakamannya dari layar televisi, Elton
John menyanyikan Candle in the Wind.
Dunia
kehilangan seorang putri.
Tetapi 31 Agustus ternyata tidak hanya
menyimpan kisah tentang Diana.
Jauh
sebelum dan sesudah hari itu, tanggal yang sama berkali-kali menjadi saksi
ketika manusia mengubah arah sejarah.
Ada
bangsa yang meneriakkan Merdeka.
Ada
negara yang melepaskan diri dari penjajahan.
Ada
kaum pekerja yang menantang sebuah rezim.
Ada
imperium besar yang mulai pecah.
Begini
kisahnya…
40
Tahun sebelum kepergian Putri Diana, persisnya 31 Agustus 1957. Malaya
Berteriak "Merdeka!"
Di Stadion Merdeka, Kuala Lumpur, Tunku
Abdul Rahman, Ketua Menteri Federasi Malaya;
berdiri di hadapan puluhan ribu rakyat.
Tangannya terangkat.
"Merdeka! Merdeka! Merdeka!"
Tujuh kali.
Lalu gemuruh teriakan yang sama, padu dari
kurang lebih 20 ribu suara rakyat yang menyambutnya.
Bendera Federasi Malaya dikibarkan, dentuman
21 kali Meriam menggelegar. Malam sebelumnya, Union Jack, Bendera Kebangsaan Britaria
Raya resmi diturunkan untuk terakhir
kalinya. Hari itu, 31 Agustus 1957, Federasi Malaya Merdeka, bebas dari
Inggris. Sebuah negara baru lahir. Dan tanggal itu kemudian menjadi Hari
Kebangsaan Malaysia.
Raja Henry V Wafat 1422
Lebih dari lima abad sebelum Diana, tanggal 31 Agustus juga
mencatat kematian seorang raja Inggris: Henry
V, tokoh yang dikenal karena kemenangannya dalam Pertempuran
Agincourt.
Ia meninggal pada usia 35 tahun. Tahta kemudian berpindah
kepada putranya, Henry VI, yang ketika itu masih bayi.
Seorang raja yang dikenal karena medan perang akhirnya
meninggal bukan di medan pertempuran.
31 Agustus 1945. Indonesia Menjadikan
"Merdeka" Sebagai Salam
Dua minggu sebelumnya, Indonesia memproklamasikan
kemerdekaannya, 17 Agustus 1945. Tetapi kemerdekaan Indonesia tidak berhenti
pada selembar teks proklamasi.
Semangat itu harus hidup di tengah
rakyat yang masih menghadapi perang dan ketidakpastian. Masih berhadapan
langsung muka ketemu muka dengan bangsa penjajah yang menolak kemerdekaan
Bangsa Indonesia, Penjajah tidak mau segera angkat kaki, masih mau bercokol di Negeri
ini. Maka, Pada akhir Agustus 1945, pemerintah Republik Indonesia mendorong
penggunaan kata "Merdeka" sebagai salam nasional.
Hanya Satu kata.
Hanya Satu gerakan. “angkat tangan setinggi bahu, telapak menghadap
depan, Merdeka!”
Sederhana,
tapi menyatukan semangat anak bangsa. Di tengah revolusi, satu kata jadi
identitas bangsa. Tegas, Lawan!
Orang Indonesia yang bertemu tidak
sekadar menyapa, itu menjadi ingatan Nasional dalam menyapa satu sama lain,: Kita
sudah merdeka.
Menariknya, beberapa tahun kemudian,
kata yang sama kembali menggema di negeri tetangga.
1962.
Di belahan dunia yang lain, Trinidad dan Tobago merdeka dari Inggris pada 31
Agustus 1962.
Negara kepulauan di Karibia itu
memasuki babak baru sebagai negara merdeka.
Dua negara yang sangat jauh dari Asia
Tenggara, tetapi mempunyai pengalaman yang mirip: sebuah tanggal yang dahulu
menandai berakhirnya kekuasaan kolonial kemudian berubah menjadi simbol
identitas nasional.
1980. Sebuah Galangan Kapal Mengguncang
Eropa
Mungkin inilah salah satu peristiwa 31
Agustus yang paling penting tetapi tidak selalu kita ingat.
Gdańsk, Polandia.
Sebuah galangan kapal. Para pekerja
melakukan pemogokan.
Pada 31 Agustus 1980, pemerintah Polandia dan perwakilan para pekerja
menandatangani Gdańsk Agreement.
Kesepakatan itu membuka jalan bagi terbentuknya serikat buruh independen Solidarity. Sesuatu yang kelihatannya
hanya persoalan buruh ternyata berkembang menjadi jauh lebih besar.
Gerakan itu menjadi salah satu kekuatan
penting yang menantang dominasi rezim komunis di Polandia dan ikut membuka
jalan menuju perubahan politik Eropa Timur pada akhir 1980-an. Sejarah
terkadang memang dimulai dari tempat yang tidak dianggap penting. Bukan istana.
Bukan gedung parlemen.
Tetapi dari sebuah tempat kerja, ketika
orang-orang biasa berkata: “cukup!”.
1991. Uni Soviet Mulai Pecah dari Dalam
Tahun 1991 adalah tahun yang luar biasa
dalam sejarah dunia. Uni Soviet sedang menuju akhir kehidupannya.
Pada 31 Agustus 1991, Kyrgyzstan menyatakan kemerdekaannya dari Uni
Soviet.
Pada tanggal yang sama, Uzbekistan juga
mendeklarasikan kemerdekaannya. Uzbekistan kemudian memperingati 1 September sebagai Hari Kemerdekaan.
Dalam beberapa bulan berikutnya, Uni
Soviet benar-benar bubar.
Sebuah negara adidaya yang selama
puluhan tahun menjadi salah satu kutub utama dunia akhirnya tinggal sejarah. Dan
31 Agustus menjadi salah satu tanggal yang tercatat dalam proses pecahnya
negara raksasa tersebut.
31 Agustus : Hari Kesadaran Overdosis
Sebuah tanggal
peringatan. Lilin Untuk Yang Pergi Terlalu Cepat. Sejak 2001, dunia
memperingati Hari Kesadaran Overdosis. Bukan untuk menghakimi, tapi untuk
mengingat. Mengingat Manusia, saudara, teman, keluarga yang pergi karena
narkoba. Sekaligus mengingatkan kita: bahaya itu nyata, dan pencegahan itu
perlu.
Dari
Wisma Marinda, saya sama sekali tidak pernah membayangkan bahwa bertahun-tahun
kemudian saya akan kembali membuka tanggal itu dan menemukan begitu banyak
potongan sejarah di dalamnya.
Barangkali
memang begitu cara sejarah bekerja, lalu kita tidak selalu tahu bahwa kita
sedang berada di dalamnya. Kita bahkan baru menyadarinya setelah waktu berjalan
jauh. Dan ketika kita menoleh ke belakang, ternyata tanggal yang dahulu terasa
biasa saja telah menyimpan cerita.
31 Agustus
bukan hanya tanggal ketika bangsa-bangsa membuat sejarah. Pada zaman digital,
tanggal itu juga menjadi hari ketika para blogger diajak saling memperkenalkan
dunia mereka.
Ini Bukan tentang presiden.
Bukan tentang kerajaan.
Bukan tentang perang.
Tentang kita.
Tentang orang-orang biasa yang menulis
dari kamar, meja kerja, warung kopi, atau sudut rumahnya, lalu mengirimkan
pikirannya ke dunia.
Tahun 2005, lahirlah BlogDay,
yang diperingati setiap 31 Agustus. Gagasannya sederhana: temukan blog lain,
kenalkan kepada pembaca, dan biarkan orang menemukan dunia yang mungkin
sebelumnya tidak mereka kenal.
Menariknya, angka 31/08 dibaca sebagai
3108, yang secara visual dianggap menyerupai kata blog.
Maka pada 31 Agustus, sejarah tidak
hanya ditempa oleh bangsa dan tokoh besar.
Ia juga ditulis oleh para blogger, yang duduk sendirian di depan layar, lalu memilih untuk
menekan tombol “Publikasikan”.
Lalu, dari sudut Kota Atambua, Di suatu
tempat bernama Kuneru, saya menulis sekali lagi. Mengingatkan bahwa tanggal 31
Agustus memang punya cerita itu semua. Silahkan sidang pembaca memberi makna. sekian.
Eng di Kuneru, 31 Agustus 2026