Thursday, September 10, 2026

EKSISTENSI BAHASA TETUN DAN TRADISI LISAN BELU DALAM MENGHADAPI ARUS MODERNISASI GLOBAL

Itu Thema kegiatan Seminar Semarak Kebudayaan yang diinisiasi Oleh Kementerian Kabudayaan Republik Indonesia, hasil kerja aspirasi Anggota DPR RI Komisi X Fraksi PDI Perjuangan, Stevano Rizki Adranacus. Kegiatan  berlangsung di Gedung Bete Lalenok; 10 September 2026.

Sebagai salah satu Narasumber, saya membedah thema ini dalam beberapa suasana. Ada kegembiraan diawal karena momentum sekelas ini, jarang terjadi di Kabupaten Belu. Seminar, diskusi publik, sarasehan, apapun itu bentuk diskusi pencerahan memang jarang dilangsungkan. Maka kesempatan ini baik adanya; apresiasi untuk Pak Stevano Adranacus yang berhasil membidik isu Kebudayaan  sebagai salah satu kerja politik yang nyata.

Bahasa menunjukkan Bangsa. Sebuah bangsa merujuk pada Manusia dan Tempat dimana mereka tinggal dan membangun peradaban. Sebuah relasi yang dapat diterangkan dari Defenisi Nasionalisme Indonesia yang digagas oleh Presiden Pertama Indonesia, Ir. Soekarno. Hal ini kemudian daapt kita lihat di Belu, Persis di tengah Kota Atambua, pernah tumbuh dan berdiri satu Pohon Beringin yang ditanam oleh Ir. Soekarno pada kunjungan ke Belu, Mei 1954. Empat tahun sebelum  Kabupaten Belu resmi lahir dan berdiri sebagai sebuah Wilayah Administrasi dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Pohon beringin memang hanya sebuah simbol Persatuan dalam sila ke-3 Pancasila, namun makna yang lebih mendalam adalah peristiwa yang melatari kelahiran simbol itu sendiri. Dikisahkan bahwa pada saat kunjungan Presiden Pertama itu, di lapangan umum Atambua ribuan masyarakat adat dan warga umum, anak sekolah, pejabat Gereja menyambut peristiwa itu. Masyarakat membentangkan kain adat, melapaskan hiasan emas yang mereka pakai, lalu menaruhnya di atas kain yang dibentangkan, berharap Bung Karno berjalan melewati pagar betis itu. Namun yang terjadi adalah, Bung Karno malah berjalan di tepian. Sama sekali tidak menapakkan kakinya diatas bentangan kain-kain adat yang bertaburan emas tersebut. Lalu, dalam pidatonya, Beliau menyampaikan alasannya, bahwa kain adat adalah ekspresi budaya masyarakat adat di Belu, Sebagai Presiden, beliau tidak ingin menginjak-injaknya. Kebudayaan oleh Bung Karno harus ditempatkan sebagai salah satu fondasi dalam Trisaksi Indonesia, Berkepribadian dalam Bidang Kebudayaan. Pidato itu kemudian dikukuhkan melalui penyerahan Bendera Merah Putih kepada seorang Liurai dan masih tersimpan hingga kini di Kabupaten Malaka.

Kabupaten Belu di masa lalu, adalah bagian dari dua wilayah geografis, pula geopolitik Utara (Belu) dan Selatan (Malaka), Foho dan Fehan, dataran tinggi dan dataran rendah serta lautan di bagian Utara dan Selatan yang dikenal dengan sebutan Tasifeto dan Tasimane.  “Belu” sendiri bermakna sebagai kawan dekat, sahabat, persaudaran  yang mengembangkan kesetaraan. Dengan Motto “Husar Binan Rai Belu, Tetuk no Kmanek” dapat diartikan sebuah semboyan keramat, Dengan semangat Persaudaraan kita membangun masyarakat Belu menuju tercapainya adil sejehtera kesejahteraan lahir batin.

Bahasa Tetun dengan langgam tutur adalah hasil dari perkembangan sebuah kebudayaan dari masyarakat yang memiliki identitas Tetun. Dan mudah ditelusuri dari Bahasa, nama suku dan setiap nama tempat. Lebih dari itu, Nama dari 12 Kecamatan, 81 Desa, 12 Kelurahan  yang ada di Belu, ada sekitar 75 persen dalam Bahasa Tetun.

Hal ini dapat ditelusuri melalui Identifikasi Tradisi Lisan, terdapat jenis Sastra Lisan Belu seperti puisi adat/takkan pada ungkapan tradisional, lirik lagu daerah: Tolak bala, atau tradisi pemulihan hubungan dengan leluhur (menggunakan binatang). Cerita Rakyat (Dongeng) / Aikanoik; Puisi Rakyat : Aikananuk, Pantun Rakyat Aibabelen, nyanyian seperti Lakumerin. Ada sajak tradisional yang diucapkan secara adat misalnya Hase Hawaka, Ho Dean, ada syair dalam tarian Tebe, lagu daerah yang menceritakan kisah keseharian. Haholek Wani dan Kari Fos, Leno Urat pada usus hewan seperti ayam atau babi, atau Tunu / korban kabaran untuk maksud tertentu, mohon restu suksesnya sebuah hajatan.  

Eksistensi Bahasa Tetun juga memiliki fungsi sosial sebagai perekat antar masyakarat Belu yang bukan saja berasal dari etnik Tetun, tetapi juga ada Etins besar lainnya sepeti Etnis Bunak, Kemak dan Dawan. Dalam perjalanan sejarah, di tiga puluh tahun terakhir ini, Belu juga mendapat kekayaan baru dengan kehadiran anak-anak Indonesia kelahiran Timor-Timur,  Timor Leste hari ini, pula didominasi suku-suku Tetun, Bunak dan Kemak serta suku-suku lainnya. Perkembangan masyarakat di Belu mampu dijembatani oleh Bahasa Tetun dengan tradisi lisan dalam penyelesaian konflik, menjaga perdamaian, gotong royong dan merekatkan hubugan kekerabatan antar komunitas di Belu.

Kehadiran berbagai komunitas seperti Sobat, Timor Oan, Komunitas Masyarakat Fehalaran, dan komunitas lainnya dengan identitas etnik adalah gambaran langsung dari sebuah kepedulian membangun bangsa, yang itu dimulai dengan percapakan dalam Bahasa persaudaraan, dan Bahasa Tetun sudah barang tentu ada dalam bagian penting ini.

Ditengah tantangan moderniasi dan kemajuan Teknologi masa kini, Eksistensi Bahasa Tetun masih dapat dipertahankan melalui beberapa cara antara lain :

1.  Inventarisasi Uma Metan / Nama Suku-Suku yang ada di Kabupaten Belu yang tersebar di 12 Kecamatan; berikut sejarah perkembangannya. Dimulai dari empat etnis Besar, Tetun, Bunak Kemak dan Dawan, akan berkembang dengan kedatangan suku-bangsa  yang ada di NTT dan Suku bangsa lainnya di Indonesia.

2.  Skrip atau catatan sejarah singkat berkenaan dengan nama-nama tempat di Belu. 

3.  Museum Belu, menjadi pusat pendidikan kebudayaan, ini beralan karena Posisi Strategis Kabupten Belu berada di Perbatasan RI- RDTL

4. Penelitian kebudayaan yang dapat dikembangkan  oleh komunitas-Komunitas Kebudayaan.

5. Orang muda Belu bisa mengembangkan konten-konten cerita rakyat dengan memanfaatkan fasilitas AI di masa kini. Ini menjadi bagian langsung dari jawaban terhadap tantangan modernisasi. Kemajuan teknologi mesti dipandang sebagai jalan untuk membangun kreativitas, memperkaya literature cetak dan digital tentang khasanah Bahasa Tetun, dan Bahasa lainya yang hidup berdampingan  secara damai dalam masa ke masa.

6. Sekolah-sekolah konsisten mengembangkan Sanggar-sanggar kesenian Belu, dan konsisten dikembangkan dalam kurikulum Lokal. Ini penting sebagai manisfestasi pendidikan budi pekerti bagi fondasi moral generasi Belu masa kini dan masa depan.

7.  Masih diperlukan seminar kebudayaan setiap sekali setahun.

8. Parade Kebudayaan. Sebuah momentum khusus menampilkan seluruh Etnis dan khasanah budaya yang ada di Kabupaten Belu.

Ini beberapa pikiran yang bisa saya sumbangkan dalam Seminar semarak Kebudayaan di Atambua. Sekian

Eng di Kuneru, 10 September 2026 

Tuesday, September 1, 2026

Kesunyian itu Bernama Membaca!

Hari ini 1 September, Dunia memperingatinya sebagai Hari Menulis. Maka malam ini saya ingin menulis.

Dan pertanyaan ini muncul lebih awal, masih pentingkah menulis, ketika dunia semakin ramai dengan video, gambar bergerak, dan suara yang datang tanpa harus kita baca?

 

Kita hidup dalam zaman yang bergerak cepat.

Sebuah cerita dapat hadir dalam hitungan detik. Kita melihat, mendengar, lalu berpindah kepada cerita berikutnya. Membaca seolah-olah menjadi sesuatu yang pelan. Bahkan mungkin, bagi sebagian orang, terasa seperti kebiasaan dari masa lalu.

 

Tetapi saya masih memilih menulis.

Karena saya percaya, ada sesuatu yang tidak selesai hanya dengan melihat dan mendengar.

Mesti ada sesuatu yang perlu kita baca, dan bukankah semuanya bermula dari sana?

Seseorang menulis, yng lain membaca.

Lalu pembaca berpikir.

Dari pikiran itu, mungkin lahir sebuah pertanyaan.

Dari pertanyaan, lahir sebuah gagasan.

Dan mungkin, dari gagasan itu, seseorang kembali menulis.

Begitulah kata-kata berjalan dari manusia ke manusia.

Dari satu zaman ke zaman berikutnya.

 

Maka membaca, bagi saya, bukan sekadar menerima tulisan. 

Membaca adalah memasuki sebuah kesunyian.

Bukan kesunyian karena tak bersuara, tetapi kesunyian ketika kita akhirnya mempunyai kesempatan untuk mendengar suara dari dalam diri sendiri.

 

Di dalam kesunyian itu, pikiran bisa berkelana.

Tidak mesti kata-kata tinggi menjulang di cakrawala.

Dari sebuah bilik kecil sekalipun, pikiran dapat menangkap irama semesta.

Dan mungkin, pulang ke hati adalah cara paling mungkin untuk menyapa diri sendiri.

 

Karena itu malam ini saya tetap menulis.

Dengan apa yang saya punya.

Sebuah bilik kecil, lampu temaram, hati yang menuntun pikiran, dan gerak ritmis di sepuluh jari.

 

Saya menulis karena saya ingin seseorang membaca.

Dan saya membaca karena mungkin, dari sana, saya kembali menemukan alasan untuk menulis.

 

Selamat Hari Menulis.

Mari menulis demi menjaga mata rantai peradaban kata

Mari membaca.

Sebab di tengah dunia yang semakin ramai oleh suara, kesunyian itu bernama membaca.

 

Eng di Kuneru, 1 September 2026

Monday, August 31, 2026

Diana, Princess of Wales, In Memoriam — Etape Historis 31 Agustus

31 Agustus 1997.
 
Siang itu, Hari Minggu. Saya berada di Jakarta. Lebih tepatnya di Wisma Marinda, Jalan Percetakan Negara XI—sebuah tempat yang pada masa itu juga menjadi salah satu Markas Utama kaum pergerakan. Kala itu, Pimpinan Nasional Presidium GMNI masih bermarkas di sana. Bung Ayi Vivananda sebagai Ketua Presidium dan Ahmad Basarah sebagai Sekretaris Jenderal.

18 Agustus 1997, saya mendapat tugas dari kantor sebagai staf yang dikirim Bappeda Provinsi Nusa Tenggara Timur, Bidang Fisik dan Prasarana, untuk mengikuti Kursus Geographic Information System (GIS) di Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional—Bakosurtanal—di Cibinong, dalam periode Agustus sampai Oktober 1997. Kursus lazimnya berlaku Senin sampai Jumat, maka akhir pekan sering saya manfaatkan untuk tinggal di Wisma Marinda, berdiskusi, tambah relasi dan menyerap pengetahuan dari senior-senior GMNI dan Kelompok Cipayung.
 
Jakarta siang itu berjalan seperti biasa. Orang-orang sibuk dengan urusannya. Lalu kabar duka itu datang, Diana, Princess of Wales, mengalami kecelakaan di Paris. Seorang perempuan yang selama bertahun-tahun wajahnya begitu akrab di televisi dunia, tiba-tiba menjadi headline.

Saya tidak lagi ingat persis jam berapa pertama kali mendengar kabar itu. Yang pasti itu Hari Minggu, karena malam harinya, saya pulang ke Cibinong, urusan Kursus. Entah TVRI atau RCTI—ingatan saya tidak cukup kuat untuk memastikan. Yang saya ingat, esok harinya pada 1 September, di Mess tempat peserta kursus tinggal, kami nonton bersama program khusus RCTI “Mengenang Putri Diana” pukul 18.00 dan 21.30 WIB.

Sebuah nama membuat dunia terdiam kehilangan, Diana, Princess of Wales.
Bagi sebagian besar orang, ia tetap dikenal sebagai Lady Diana. Perempuan yang masuk ke dalam keluarga kerajaan Inggris, tetapi kemudian justru dikenal karena kedekatannya dengan rakyat biasa.
 
Ia mengunjungi rumah sakit. Mengulurkan tangan kepada penderita AIDS, persis ketika penyakit itu masih terbungkus rasa takut dan stigma. Ia mendatangi anak-anak, korban konflik, dan mereka yang hidup jauh dari kemewahan istana. Nama Lady Diana, barangkali tidak tersohor karena Istri seorang Pangeran, Pewaris Tahta Kerajaan Inggris. Putri ini, tampil bersahaja lebih karena watak kemanusiaan yang diperlihatkan tanpa pamrih “Pencitraan”, satu kata yang kerab disematkan untuk para pesohor.  

Diana seperti menemukan caranya sendiri untuk menjadi seorang putri.
Bukan hanya dengan mahkota.
Tetapi dengan kemanusiaan. 

Lalu, 31 Agustus 1997, perjalanan itu berhenti di Paris.
Kabar kecelakaan di terowongan Pont de l'Alma menyebar ke seluruh dunia. 6 September 1997, jutaan orang memenuhi jalan dan miliaran manusia lainnya menyaksikan pemakamannya dari layar televisi, Elton John menyanyikan Candle in the Wind.
Dunia kehilangan seorang putri.
 
Tetapi 31 Agustus ternyata tidak hanya menyimpan kisah tentang Diana.
Jauh sebelum dan sesudah hari itu, tanggal yang sama berkali-kali menjadi saksi ketika manusia mengubah arah sejarah.
Ada bangsa yang meneriakkan Merdeka.
Ada negara yang melepaskan diri dari penjajahan.
Ada kaum pekerja yang menantang sebuah rezim.
Ada imperium besar yang mulai pecah.
 
Begini kisahnya…
40 Tahun sebelum kepergian Putri Diana, persisnya 31 Agustus 1957. Malaya Berteriak "Merdeka!"
 
Di Stadion Merdeka, Kuala Lumpur, Tunku Abdul Rahman, Ketua Menteri Federasi  Malaya; berdiri di hadapan puluhan ribu rakyat.
Tangannya terangkat.
"Merdeka! Merdeka! Merdeka!"
Tujuh kali.
Lalu gemuruh teriakan yang sama, padu dari kurang lebih 20 ribu suara rakyat yang menyambutnya.
Bendera Federasi Malaya dikibarkan, dentuman 21 kali Meriam menggelegar. Malam sebelumnya, Union Jack, Bendera Kebangsaan Britaria Raya resmi  diturunkan untuk terakhir kalinya. Hari itu, 31 Agustus 1957, Federasi Malaya Merdeka, bebas dari Inggris. Sebuah negara baru lahir. Dan tanggal itu kemudian menjadi Hari Kebangsaan Malaysia.
 
Raja Henry V Wafat 1422
Lebih dari lima abad sebelum Diana, tanggal 31 Agustus juga mencatat kematian seorang raja Inggris: Henry V, tokoh yang dikenal karena kemenangannya dalam Pertempuran Agincourt.
Ia meninggal pada usia 35 tahun. Tahta kemudian berpindah kepada putranya, Henry VI, yang ketika itu masih bayi.
Seorang raja yang dikenal karena medan perang akhirnya meninggal bukan di medan pertempuran.
 
31 Agustus 1945. Indonesia Menjadikan "Merdeka" Sebagai Salam
Dua minggu sebelumnya, Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya, 17 Agustus 1945. Tetapi kemerdekaan Indonesia tidak berhenti pada selembar teks proklamasi.
Semangat itu harus hidup di tengah rakyat yang masih menghadapi perang dan ketidakpastian. Masih berhadapan langsung muka ketemu muka dengan bangsa penjajah yang menolak kemerdekaan Bangsa Indonesia, Penjajah tidak mau segera angkat kaki, masih mau bercokol di Negeri ini. Maka, Pada akhir Agustus 1945, pemerintah Republik Indonesia mendorong penggunaan kata "Merdeka" sebagai salam nasional.
Hanya Satu kata.
Hanya Satu gerakan. “angkat tangan setinggi bahu, telapak menghadap depan, Merdeka!”
Sederhana, tapi menyatukan semangat anak bangsa. Di tengah revolusi, satu kata jadi identitas bangsa. Tegas, Lawan!
Orang Indonesia yang bertemu tidak sekadar menyapa, itu menjadi ingatan Nasional dalam menyapa satu sama lain,: Kita sudah merdeka.
Menariknya, beberapa tahun kemudian, kata yang sama kembali menggema di negeri tetangga.
 
1962. Di belahan dunia yang lain, Trinidad dan Tobago merdeka dari Inggris pada 31 Agustus 1962.
Negara kepulauan di Karibia itu memasuki babak baru sebagai negara merdeka.
Dua negara yang sangat jauh dari Asia Tenggara, tetapi mempunyai pengalaman yang mirip: sebuah tanggal yang dahulu menandai berakhirnya kekuasaan kolonial kemudian berubah menjadi simbol identitas nasional.
 
1980. Sebuah Galangan Kapal Mengguncang Eropa
Mungkin inilah salah satu peristiwa 31 Agustus yang paling penting tetapi tidak selalu kita ingat.
Gdańsk, Polandia.
Sebuah galangan kapal. Para pekerja melakukan pemogokan.
Pada 31 Agustus 1980, pemerintah Polandia dan perwakilan para pekerja menandatangani Gdańsk Agreement. Kesepakatan itu membuka jalan bagi terbentuknya serikat buruh independen Solidarity. Sesuatu yang kelihatannya hanya persoalan buruh ternyata berkembang menjadi jauh lebih besar.
Gerakan itu menjadi salah satu kekuatan penting yang menantang dominasi rezim komunis di Polandia dan ikut membuka jalan menuju perubahan politik Eropa Timur pada akhir 1980-an. Sejarah terkadang memang dimulai dari tempat yang tidak dianggap penting. Bukan istana. Bukan gedung parlemen.
Tetapi dari sebuah tempat kerja, ketika orang-orang biasa berkata: “cukup!”.
 
1991. Uni Soviet Mulai Pecah dari Dalam
Tahun 1991 adalah tahun yang luar biasa dalam sejarah dunia. Uni Soviet sedang menuju akhir kehidupannya.
Pada 31 Agustus 1991, Kyrgyzstan menyatakan kemerdekaannya dari Uni Soviet.
Pada tanggal yang sama, Uzbekistan juga mendeklarasikan kemerdekaannya. Uzbekistan kemudian memperingati 1 September sebagai Hari Kemerdekaan.
Dalam beberapa bulan berikutnya, Uni Soviet benar-benar bubar.
Sebuah negara adidaya yang selama puluhan tahun menjadi salah satu kutub utama dunia akhirnya tinggal sejarah. Dan 31 Agustus menjadi salah satu tanggal yang tercatat dalam proses pecahnya negara raksasa tersebut.
 
31 Agustus : Hari Kesadaran Overdosis
Sebuah tanggal peringatan. Lilin Untuk Yang Pergi Terlalu Cepat. Sejak 2001, dunia memperingati Hari Kesadaran Overdosis. Bukan untuk menghakimi, tapi untuk mengingat. Mengingat Manusia, saudara, teman, keluarga yang pergi karena narkoba. Sekaligus mengingatkan kita: bahaya itu nyata, dan pencegahan itu perlu.

Dari Wisma Marinda, saya sama sekali tidak pernah membayangkan bahwa bertahun-tahun kemudian saya akan kembali membuka tanggal itu dan menemukan begitu banyak potongan sejarah di dalamnya.
 
Barangkali memang begitu cara sejarah bekerja, lalu kita tidak selalu tahu bahwa kita sedang berada di dalamnya. Kita bahkan baru menyadarinya setelah waktu berjalan jauh. Dan ketika kita menoleh ke belakang, ternyata tanggal yang dahulu terasa biasa saja telah menyimpan cerita.
 
31 Agustus bukan hanya tanggal ketika bangsa-bangsa membuat sejarah. Pada zaman digital, tanggal itu juga menjadi hari ketika para blogger diajak saling memperkenalkan dunia mereka.
 
Ini Bukan tentang presiden.
Bukan tentang kerajaan.
Bukan tentang perang.
Tentang kita.
 
Tentang orang-orang biasa yang menulis dari kamar, meja kerja, warung kopi, atau sudut rumahnya, lalu mengirimkan pikirannya ke dunia.
 
Tahun 2005, lahirlah BlogDay, yang diperingati setiap 31 Agustus. Gagasannya sederhana: temukan blog lain, kenalkan kepada pembaca, dan biarkan orang menemukan dunia yang mungkin sebelumnya tidak mereka kenal.
Menariknya, angka 31/08 dibaca sebagai 3108, yang secara visual dianggap menyerupai kata blog.
Maka pada 31 Agustus, sejarah tidak hanya ditempa oleh bangsa dan tokoh besar.
Ia juga ditulis oleh para blogger, yang duduk sendirian di depan layar, lalu memilih untuk menekan tombol “Publikasikan”.
 
Lalu, dari sudut Kota Atambua, Di suatu tempat bernama Kuneru, saya menulis sekali lagi. Mengingatkan bahwa tanggal 31 Agustus memang punya cerita itu semua. Silahkan sidang pembaca memberi makna. sekian.
 
Eng di Kuneru, 31 Agustus 2026