Monday, August 31, 2026

Diana, Princess of Wales, In Memoriam — Etape Historis 31 Agustus

31 Agustus 1997.
 
Siang itu, Hari Minggu. Saya berada di Jakarta. Lebih tepatnya di Wisma Marinda, Jalan Percetakan Negara XI—sebuah tempat yang pada masa itu juga menjadi salah satu Markas Utama kaum pergerakan. Kala itu, Pimpinan Nasional Presidium GMNI masih bermarkas di sana. Bung Ayi Vivananda sebagai Ketua Presidium dan Ahmad Basarah sebagai Sekretaris Jenderal.

18 Agustus 1997, saya mendapat tugas dari kantor sebagai staf yang dikirim Bappeda Provinsi Nusa Tenggara Timur, Bidang Fisik dan Prasarana, untuk mengikuti Kursus Geographic Information System (GIS) di Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional—Bakosurtanal—di Cibinong, dalam periode Agustus sampai Oktober 1997. Kursus lazimnya berlaku Senin sampai Jumat, maka akhir pekan sering saya manfaatkan untuk tinggal di Wisma Marinda, berdiskusi, tambah relasi dan menyerap pengetahuan dari senior-senior GMNI dan Kelompok Cipayung.
 
Jakarta siang itu berjalan seperti biasa. Orang-orang sibuk dengan urusannya. Lalu kabar duka itu datang, Diana, Princess of Wales, mengalami kecelakaan di Paris. Seorang perempuan yang selama bertahun-tahun wajahnya begitu akrab di televisi dunia, tiba-tiba menjadi headline.

Saya tidak lagi ingat persis jam berapa pertama kali mendengar kabar itu. Yang pasti itu Hari Minggu, karena malam harinya, saya pulang ke Cibinong, urusan Kursus. Entah TVRI atau RCTI—ingatan saya tidak cukup kuat untuk memastikan. Yang saya ingat, esok harinya pada 1 September, di Mess tempat peserta kursus tinggal, kami nonton bersama program khusus RCTI “Mengenang Putri Diana” pukul 18.00 dan 21.30 WIB.

Sebuah nama membuat dunia terdiam kehilangan, Diana, Princess of Wales.
Bagi sebagian besar orang, ia tetap dikenal sebagai Lady Diana. Perempuan yang masuk ke dalam keluarga kerajaan Inggris, tetapi kemudian justru dikenal karena kedekatannya dengan rakyat biasa.
 
Ia mengunjungi rumah sakit. Mengulurkan tangan kepada penderita AIDS, persis ketika penyakit itu masih terbungkus rasa takut dan stigma. Ia mendatangi anak-anak, korban konflik, dan mereka yang hidup jauh dari kemewahan istana. Nama Lady Diana, barangkali tidak tersohor karena Istri seorang Pangeran, Pewaris Tahta Kerajaan Inggris. Putri ini, tampil bersahaja lebih karena watak kemanusiaan yang diperlihatkan tanpa pamrih “Pencitraan”, satu kata yang kerab disematkan untuk para pesohor.  

Diana seperti menemukan caranya sendiri untuk menjadi seorang putri.
Bukan hanya dengan mahkota.
Tetapi dengan kemanusiaan. 

Lalu, 31 Agustus 1997, perjalanan itu berhenti di Paris.
Kabar kecelakaan di terowongan Pont de l'Alma menyebar ke seluruh dunia. 6 September 1997, jutaan orang memenuhi jalan dan miliaran manusia lainnya menyaksikan pemakamannya dari layar televisi, Elton John menyanyikan Candle in the Wind.
Dunia kehilangan seorang putri.
 
Tetapi 31 Agustus ternyata tidak hanya menyimpan kisah tentang Diana.
Jauh sebelum dan sesudah hari itu, tanggal yang sama berkali-kali menjadi saksi ketika manusia mengubah arah sejarah.
Ada bangsa yang meneriakkan Merdeka.
Ada negara yang melepaskan diri dari penjajahan.
Ada kaum pekerja yang menantang sebuah rezim.
Ada imperium besar yang mulai pecah.
 
Begini kisahnya…
40 Tahun sebelum kepergian Putri Diana, persisnya 31 Agustus 1957. Malaya Berteriak "Merdeka!"
 
Di Stadion Merdeka, Kuala Lumpur, Tunku Abdul Rahman, Ketua Menteri Federasi  Malaya; berdiri di hadapan puluhan ribu rakyat.
Tangannya terangkat.
"Merdeka! Merdeka! Merdeka!"
Tujuh kali.
Lalu gemuruh teriakan yang sama, padu dari kurang lebih 20 ribu suara rakyat yang menyambutnya.
Bendera Federasi Malaya dikibarkan, dentuman 21 kali Meriam menggelegar. Malam sebelumnya, Union Jack, Bendera Kebangsaan Britaria Raya resmi  diturunkan untuk terakhir kalinya. Hari itu, 31 Agustus 1957, Federasi Malaya Merdeka, bebas dari Inggris. Sebuah negara baru lahir. Dan tanggal itu kemudian menjadi Hari Kebangsaan Malaysia.
 
Raja Henry V Wafat 1422
Lebih dari lima abad sebelum Diana, tanggal 31 Agustus juga mencatat kematian seorang raja Inggris: Henry V, tokoh yang dikenal karena kemenangannya dalam Pertempuran Agincourt.
Ia meninggal pada usia 35 tahun. Tahta kemudian berpindah kepada putranya, Henry VI, yang ketika itu masih bayi.
Seorang raja yang dikenal karena medan perang akhirnya meninggal bukan di medan pertempuran.
 
31 Agustus 1945. Indonesia Menjadikan "Merdeka" Sebagai Salam
Dua minggu sebelumnya, Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya, 17 Agustus 1945. Tetapi kemerdekaan Indonesia tidak berhenti pada selembar teks proklamasi.
Semangat itu harus hidup di tengah rakyat yang masih menghadapi perang dan ketidakpastian. Masih berhadapan langsung muka ketemu muka dengan bangsa penjajah yang menolak kemerdekaan Bangsa Indonesia, Penjajah tidak mau segera angkat kaki, masih mau bercokol di Negeri ini. Maka, Pada akhir Agustus 1945, pemerintah Republik Indonesia mendorong penggunaan kata "Merdeka" sebagai salam nasional.
Hanya Satu kata.
Hanya Satu gerakan. “angkat tangan setinggi bahu, telapak menghadap depan, Merdeka!”
Sederhana, tapi menyatukan semangat anak bangsa. Di tengah revolusi, satu kata jadi identitas bangsa. Tegas, Lawan!
Orang Indonesia yang bertemu tidak sekadar menyapa, itu menjadi ingatan Nasional dalam menyapa satu sama lain,: Kita sudah merdeka.
Menariknya, beberapa tahun kemudian, kata yang sama kembali menggema di negeri tetangga.
 
1962. Di belahan dunia yang lain, Trinidad dan Tobago merdeka dari Inggris pada 31 Agustus 1962.
Negara kepulauan di Karibia itu memasuki babak baru sebagai negara merdeka.
Dua negara yang sangat jauh dari Asia Tenggara, tetapi mempunyai pengalaman yang mirip: sebuah tanggal yang dahulu menandai berakhirnya kekuasaan kolonial kemudian berubah menjadi simbol identitas nasional.
 
1980. Sebuah Galangan Kapal Mengguncang Eropa
Mungkin inilah salah satu peristiwa 31 Agustus yang paling penting tetapi tidak selalu kita ingat.
Gdańsk, Polandia.
Sebuah galangan kapal. Para pekerja melakukan pemogokan.
Pada 31 Agustus 1980, pemerintah Polandia dan perwakilan para pekerja menandatangani Gdańsk Agreement. Kesepakatan itu membuka jalan bagi terbentuknya serikat buruh independen Solidarity. Sesuatu yang kelihatannya hanya persoalan buruh ternyata berkembang menjadi jauh lebih besar.
Gerakan itu menjadi salah satu kekuatan penting yang menantang dominasi rezim komunis di Polandia dan ikut membuka jalan menuju perubahan politik Eropa Timur pada akhir 1980-an. Sejarah terkadang memang dimulai dari tempat yang tidak dianggap penting. Bukan istana. Bukan gedung parlemen.
Tetapi dari sebuah tempat kerja, ketika orang-orang biasa berkata: “cukup!”.
 
1991. Uni Soviet Mulai Pecah dari Dalam
Tahun 1991 adalah tahun yang luar biasa dalam sejarah dunia. Uni Soviet sedang menuju akhir kehidupannya.
Pada 31 Agustus 1991, Kyrgyzstan menyatakan kemerdekaannya dari Uni Soviet.
Pada tanggal yang sama, Uzbekistan juga mendeklarasikan kemerdekaannya. Uzbekistan kemudian memperingati 1 September sebagai Hari Kemerdekaan.
Dalam beberapa bulan berikutnya, Uni Soviet benar-benar bubar.
Sebuah negara adidaya yang selama puluhan tahun menjadi salah satu kutub utama dunia akhirnya tinggal sejarah. Dan 31 Agustus menjadi salah satu tanggal yang tercatat dalam proses pecahnya negara raksasa tersebut.
 
31 Agustus : Hari Kesadaran Overdosis
Sebuah tanggal peringatan. Lilin Untuk Yang Pergi Terlalu Cepat. Sejak 2001, dunia memperingati Hari Kesadaran Overdosis. Bukan untuk menghakimi, tapi untuk mengingat. Mengingat Manusia, saudara, teman, keluarga yang pergi karena narkoba. Sekaligus mengingatkan kita: bahaya itu nyata, dan pencegahan itu perlu.

Dari Wisma Marinda, saya sama sekali tidak pernah membayangkan bahwa bertahun-tahun kemudian saya akan kembali membuka tanggal itu dan menemukan begitu banyak potongan sejarah di dalamnya.
 
Barangkali memang begitu cara sejarah bekerja, lalu kita tidak selalu tahu bahwa kita sedang berada di dalamnya. Kita bahkan baru menyadarinya setelah waktu berjalan jauh. Dan ketika kita menoleh ke belakang, ternyata tanggal yang dahulu terasa biasa saja telah menyimpan cerita.
 
31 Agustus bukan hanya tanggal ketika bangsa-bangsa membuat sejarah. Pada zaman digital, tanggal itu juga menjadi hari ketika para blogger diajak saling memperkenalkan dunia mereka.
 
Ini Bukan tentang presiden.
Bukan tentang kerajaan.
Bukan tentang perang.
Tentang kita.
 
Tentang orang-orang biasa yang menulis dari kamar, meja kerja, warung kopi, atau sudut rumahnya, lalu mengirimkan pikirannya ke dunia.
 
Tahun 2005, lahirlah BlogDay, yang diperingati setiap 31 Agustus. Gagasannya sederhana: temukan blog lain, kenalkan kepada pembaca, dan biarkan orang menemukan dunia yang mungkin sebelumnya tidak mereka kenal.
Menariknya, angka 31/08 dibaca sebagai 3108, yang secara visual dianggap menyerupai kata blog.
Maka pada 31 Agustus, sejarah tidak hanya ditempa oleh bangsa dan tokoh besar.
Ia juga ditulis oleh para blogger, yang duduk sendirian di depan layar, lalu memilih untuk menekan tombol “Publikasikan”.
 
Lalu, dari sudut Kota Atambua, Di suatu tempat bernama Kuneru, saya menulis sekali lagi. Mengingatkan bahwa tanggal 31 Agustus memang punya cerita itu semua. Silahkan sidang pembaca memberi makna. sekian.
 
Eng di Kuneru, 31 Agustus 2026 

Sunday, August 30, 2026

Kita Anak Negeri

Solidaritas dalam Nada, untuk semua Korban dan Para Penolong atas Gempa di Flores, 15 Agustus 2026

https://suno.com/s/zgarPHBvYghe58ex 


Eng di Kuneru, 30 Agustus 2026

Saturday, August 15, 2026

Gempa Bumi, 15 Agustus 2026

Gempa

Guncang gemuruh

Gempar

Gerak gemetar

Galau gelisah

Gugur generasi

 

Eng di Kuneru, 15 Agustus 2026