Tuesday, July 10, 2012

Jokowi Untuk Jakarta, dan Jakarta untuk Indonesia

Tahun 1985, Jakarta aku kenal pertama kali dari mata pelajaran PSPB masa SD dulu. Setelah di SMP, ingatanku tentang Jakarta cuma seperti bayangan kelam usai mendengar dengan setengah mengerti nyanyian Iwan Fals di lagunya Kontrasmu Bisu. Lalu, Kota ini makin aku kenal setelah di bangku SMA. 
Jakarta, Ibu Kota Negara, Pusat Pemerintahan, salah satu kota dengan pusat perputaran uang, sumbunya ekonomi asia jaman itu, dan segala macam corak kehidupan ada disana. Rasanya kepingin datang ke sana, tapi harus tertahan karena kurang mampu.  

Sunday, July 8, 2012

Reformasi Birokrasi Hanya Mimpi !

...Dan, Kirimkan Malaikat Untuk Pimpin Belu...

Satu judul dengan satu sub judul yang datang dari kepala dua orang. Judul Yang pertama itu orisinil keluar dari mulut sobat Remy, sedangkan satunya; sub judul itu buah pikiran dari rekan Charles; yang terungkap dalam diskusi sessi terakhir Sekolah Demokrasi Belu pada hari ke-tiga di Penghujung April 2010 yang memang mengambil topik utama tentang Reformasi Birokrasi.

Saturday, June 16, 2012

Kasih Ibu Marla

Marla, ibu 32 tahun. Kami bertemu beberapa tahun yang lalu karena urusan kantor. Ia lalu menjadi sahabatku karena ia orang baik, terlalu sering membantu melancarkan urusan-urusan kantor.  Selain cantik, dia juga luwes dalam bergaul. Kalau dia datang, keceriaan biasanya hadir mengusir kejenuhan rutinitas kerja.
Di suatu senja, sehabis mengerjakan tugasnya, ia menahan langkahku untuk segera pulang. Kami lalu bercerita. Banyak hal kemudian terungkap, mengalir begitu saja, ibu malang ini seperti menumpahkan semua gundah di hatinya. Aku mendengar sambil sesekali menyela dengan beberapa perkataan agar dia tetap tabah. Hingga suatu ketika aku akhirnya berujar begini, “Tetaplah bersyukur dalam susah dan gembira”.

Emery Vania Mephey Gravilla Agustine

EMERY artinya Pemimpin yang baik hati (Jerman) ; karena ini bulan bagi para pemimpin; Santu Agustinus juga menyandang kehormatan dengan nama ini. Dan bangsa kita juga di proklamasikan dalam bulan ini, hanya kurang 4 hari dari hari kelahiranmu. Bulan yang melahirkan Pemimpin didalam Iman dan Bangsa. 

Bunda, Selamat Ulang Tahun

Ini kali kedua, kami sekeluarga tidak menyebut kalimat pendek diatas. Bunda sudah tiada, tapi kalimat itu sungguh memberi hidup kepada kami semua. 

Bunda pergi setahun yang lalu, kurang 2 bulan dari hari ulang tahunnya yang ke 61. Pergi, saat kami semua masih butuh dengan kasihnya penuh luruh, kesabaran dan ketabahannya yang memberi teladan.
Setiap tahun kami menanti dengan sabar untuk mengungkap kalimat itu, dan dua tahun ini, kalimat itu hanya membatin dalam harapan yang diam. Persis ketika bunda masih ada, setiap kali mengucapkannya kalimat itu, setiap itu pula harapan bertumbuh memenuhi relung hati, pikiran dan tutur kata. Bunda luar biasa,  mama terbaik yang pernah kami miliki. Dalam Kemurahan Tuhan semua berkat yang kami anak-anakmu terima... Bunda adalah maha karya Tuhan kepada kami dan keluarga kita semua... dan setiap mereka yang mengenal Bunda. 

Ayah



“Jangan sia-siakan waktu, telpon dan tengoklah beliau sebentar saja, ucapkan selamat pagi, tanyakan mimpi apa beliau semalam, tanyakan makan apa beliau hari ini, buatlah sesuatu agar dia bisa tertawa...!”.
Itu penggalan kalimat dari cerita 2 tahun lalu, tepatnya di Kupang, 20 April 2010. Mungkin sedikit dari kisah ini, ada juga di hati dan pikiran pembaca semua…

Aku mulai menulis kembali setelah sekian bulan membisu dalam gerak yang lain. Dan malam ini, kami baru saja selesai berdoa bersama keluarga untuk mengenang 2 tahun kepergiannya. Semua tidak buru-buru pamit, beberapa saat masih aku habiskan bercengkerama dengan sanak saudara; bercerita kembali tentang potongan-potongan kisah tentang ayahku, ayah kami.