Saturday, August 18, 2018

Joni dan Hari Konstitusi

Malam ini, 18 Agustus 2018. Persis di salah satu sudut kota Atambua, beberapa rekan sedang memperbincangkan Joni. Pelajar SLTP yang dalam waktu 24 jam sedang merebut perhatian dan hati publik di Indonesia. Mulai dari Presiden, Menteri,  pejabat sipil, Militer, pilot, pramugari, lebih-lebih Ibu rumah tangga, kalangan pemuda, dunia maya pun viral.

Siapa Joni?, Johanis Gama, anak SMP yang berani memanjat tiang bendera setinggi 22 meter di Upacara Bendera memperingati HUT ke-73 Republik Indonesia di Pantai Motaain, Desa Silawan, Kecamatan Tasifeto Timur, Kabupaten Belu; jaraknya kurang lebih 1 km dari Timor Leste .

Anak ini terlihat biasa saja, tapi peduli dengan tanah air. Bendera adalah lambang negara. Simbol yang mengikat tali rasa kebangsaan rakyat Indonesia, siapapun kita, dimana saja berada, berdiri tegak lurus memberi hormat, karena bendera Merah Putih yang berkibar-kibar itu; tiangnya ditanam diatas jasad para pahlawan dan anak negeri yang pernah membela, dengan jiwa, tenaga, darah, air mata dan nyawa.

Friday, March 23, 2018

Apapun Perbedaan, Jagalah Persatuan !

Dalam butuh; menyambut perayaan Hari Ulang Tahun Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) yang ke-64, 23 Maret tahun 2018. Sebagaimana amanat Bung Karno kepada GMNI agar setia kepada panggilannya yakni mengabdi kepada bangsa dengan tetap teguh sebagai Pejuang Pemikir, Pemikir Pejuang.

Di rumah GMNI, Marhaenisme dijaga, dididikkan kepada anak-anaknya, dipelihara agar tetap langgeng dalam dialektika sejarah perkembangan bangsa Indonesia, yang dari masa ke masa terus melahirkan kader bangsa yang setia mengabdi kepada ibu pertiwi, dimanapun itu ladang tempat bekerja.
Hasil didikan itu akan bermuara pada kapasitas kader yang memiliki Kualitas Pikir, Kualitas Moral, Kualitas Kerja dan Kualitas Pengabdian. Tetap menjaga tabiat dan adabnya Persatuan, karena hal itu menjadi syarat mutlak untuk membuktikan perkataan “bersatu karena kuat dan kuat karena bersatu”. Begitulah sejatinya seorang marhaenis punya kelakuan.

Monday, February 19, 2018

Kawanku dari Seberang

Dunia maya memang bukan lagi barang baru di jaman ini, jaman milenial. Ketika dunia dalam hanya genggaman, dari bocah sampai kakek nenek begitu mudah mendapat akses hanya dengan sepotong benda bernama HP, android dan sebangsanya.
Kawanku ini. Kami bertemu di dunia maya, lantas berteman dan bisa sharing banyak hal, diantaranya adalah tentang kehidupannya. Aku menyimak dalam kekaguman yang sungguh dari sebagian cerita hidupnya.

Dia memulai kisahnya saat duduk di kelas 3 SMK, tahun 2011. Di Masa itu, ayahnya harus bekerja di Kalimantan, sementara sang ibu, dia dan adiknya bertahan di Jakarta. Suatu ketika ayahnya mengalami kecelakaan kecil, namun berakibat fatal yakni menderita sakit hampir selama 5 tahun. Gadis belia, di usia 14 tahun harus mulai bekerja, berjualan makanan di sekolah. Kue bola-bola coklat dan martabak tahu buatan ibunya praktis menemaninya hingga tamat sekolah.