Thursday, July 30, 2009

Jalan Ini Bukan Setapak (untuk Fransiskus Nahak dan anak-anak Indonesia lainnya)

Meski tidak berbatu Hanya ada kerikil tajam Tapi tetap keras tanpa alas kaki...

Dua puluh tahun lalu, popularitas Iwan Fals menanjak karena hampir semua lagunya bertema kritik sosial. Masa-masa dimana banyak orang sedang jenuh dengan kemapanan.

Salah satu judul lagunya bercerita tentang Si budi kecil, judul lagunya sore tugu pancoran. Cerita tentang Budi Kecil, yang mestinya ada dibangku sekolah setiap jam 7 hingga pukul 13.15 waktu tengah hari, namun tidak demikian kenyataannya.

Monday, July 27, 2009

Dua Sahabat

Keduanya bekerja di tempat yang sama saat kutemui tadi pagi secara tidak sengaja, Yang satunya Satpam, seorangnya lagi Supir.
Yang Satpam tetangga lamaku, sedangkan yang supir, teman kelas waktu SMP dulu. Setelah sekian lama tidak berjumpa, ini pertama kali dalam tahun 2009 aku bertemu dengan mereka. Teman Satpamlah yang pertama aku temui, setelah salaman kami saling bertukar kabar. Ia lantas menawarkan bantuan seperlunya,... syukurlah, urusanku lebih cepat dari biasanya.
Sambil duduk menanti giliran dipanggil teller, sobatku yang supir muncul, sedikit kaget tapi dengan cepat menawarkan bantuan kepadaku. Aku tersenyum. Sambil berjalan pulang, aku masih berpikir tentang kebaikan dua orang sahabatku tadi. Yang sama menawarkan bantuan buatku ; hal baik yang aku terima hari ini. Benar kata Joko Susilo, sang maestro blog dan webside, “Berteman dengan siapa saja, karena teman bisa membantu kapan saja dalam susah maupun senang. Jadi, tetaplah menjaga pertemanan, karena pasti akan bermanfaat, sekarang atau kapan saja saat dibutuhkan.
Atambua, 27 Juli 2009

Timevalue Of Your Self

Berapa nilai dari waktu anda dalam satu jam ? Seribu rupiah, Sepuluh ribu, Seratus Ribu atau Satu juta rupiah ?.... “Banyak orang muda tidak mudah menyerah dan berusaha untuk bekerja keras karena menghargai waktunya dengan baik. Faktanya, banyak orang meremehkan nilainya dengan tidak bekerja, sampai-sampai pada saat jam kerja ; ada oknum PNS melenggang bebas tanpa beban di Mall-Mall. Hanya itu potongan kalimat yang masih bisa aku ingat dari seorang Mario Teguh di Metro TV kemarin malam (26/07/09). Hmm, nilai waktu dari seseorang ?. Seberapa besar seseorang menghargai dirinya dan waktu, kira-kira begitu maksudnya. Sekedar mengira-ngira; fakta bahwa orang yang tidak bisa menghargai nilai waktu dari dirinya, dicirikan dengan kebiasaan melepaskan waktu berlalu begitu saja setiap hari tanpa berbuat sesuatu. Hal ini, bisa jadi diakibatkan oleh beberapa faktor, malas atau tidak paham dengan tugasnya dalam bekerja. Dalam sebuah diskusi Nusantara di TVRI tahun 2009 ini, Siswono Yudohusodo pernah mengatakan bahwa “Orang bisa berbahagia jika bisa bekerja, karena dengan bekerja, seseorang bisa meningkatkan kualitas hidup dirinya dan keluarganya” ..well, itu hal luar biasa, pikirku. Ini benar-benar sebuah pertemuan pemikiran yang apik antara Siswono di waktu lalu, dan Mario Teguh malam tadi. Setidaknya, Mario Teguh bisa membangkitkan semangat orang muda untuk terus bekerja keras sebagai jalan untuk memberi nilai bagi waktunya dan Siswono lebih memberi harapan bahwa sesungguhnya dengan bekerja setiap orang bisa berbahagia. Maka ; mulailah bekerja. Untuk hal apa saja, sekecil apapun itu nilainya, mudah-mudahan bisa mendorong setiap kita untuk lebih bisa bekerja lebih keras lagi. Sekian. Atambua, 27 Juli 2009

Sunday, July 26, 2009

Ijasah Palsu Anggota DPRD Belu Terpilih 2009

Meski itu baru dugaan, aksi Demo mahasiswa berlangsung pukul 10 pagi, 22 Juli 2009 lalu, di bilangan lampu Merah Toko Pelita mampu membangunkan Kota Atambua. Orasi Mahasiswa Demo yang bergabung dalam FPPD (Forum Peduli Penegakan Demokrasi) baru berlangsung 1 jam, aksi long march yang menempuh rute Depan Pelita - Kantor KPU ternyata hanya berlangsung sampai di bilangan Tini. Rombongan aksi yang sedang berjalan kaki, tiba-tiba diangkut Satuan Polres Belu, lantas digelandang di Mapolres Belu. Karenanya, aksi tidak kantongi izin. Padahal, sumber resmi FPPD menyatakan bahwa surat pemberitahuan aksi sudah diajukan ke Polres Belu. Tetapi ijin, tidak terkonfirmasi antar pihak sampai peristiwa tersebut terjadi. Alih-alih, pada sore harinya, urusan di Polres selesai ; mahasiswa dibolehkan pulang. Soal kita hari ini bukan itu. Tapi tentang Ijazah Palsu. Ini memang bukan kasus baru di NTT, karena sudah pernah ada kejadian, cuma beda latar sejarah saja. Hal begini sudah pernah kami diskusikan. Sangat disayangkan, jika terbukti benar, Sang Anggota Dewan Terpilih, entah sadar atau tidak sedang bermain-main dengan sebuah Dokumen negara bertitel Ijazah SMP dan Ijasah SMA. Faktanya, diduga kuat, Ijazah SMP sang Dewan terpilih dipalsukan. Sudah begitu, Ijasah SMA-nya ; berupa ijasah Paket C jebolan sebuah sanggar di Kota Kupang. Itupun, masih diragukan kebenaran hakikinya. Saya jadi ingat, seloroh karibku, begini katanya, " Kalau diselatan, kami menyebutnya "Bete Paket!"... Lantas ada apa dengan ini semua.... JIKA MEMANG TERBUKTI BENAR.. Pertanyaan boleh jadi kemana-mana, tapi biar tidak meluas seperti laut Timor, ada baiknya; pertanyaannya kita ajukan saja kepada para pihak yang menurut ketentuan UU ; bekerja untuk maksud dan tujuan terpilihnya anggota DPRD Belu. Sebut saja KPUD Belu, boleh jadi Tim Verifikasinya tidak begitu awas dalam menyelidiki bukti-bukti diri para calon Dewan (tahun 2008); lantas tidak sengaja meloloskan oknum yang bermasalah dengan ijasah yang menjadi salah satu syarat mutlak (karena dicantumkan dalam UU) ; atau kawan-kawan kita di Panwaslu tidak dapat laporan ; lantas setelah lewat masa pemilu ; Polres Belu tidak tertarik untuk menangani kasus ini. dengar-dengar, Pak Kapolresnya tegas menolak memproses karena sedianya diproses di Mahkamah Konstitusi. Wallahu alam.... Bola Panas ini masih bergulir... Pembaca boleh ikut berpartisipasi di poling.. siapa tahu jalan pikiran kita tidak sama... selalu tersedia ruang untuk diskusi. Terima Kasih

Minggu Akhir Juli 2009

Sore ini aku datang ke warnet tidak sendirian, sepupuku minta ikut untuk belajar bermain di internet...
Saya pikir itu baik, karena ia guru di salah satu SD di Atambua. sambil mencari informasi RPP dll, kami lantas diskusi pendek begini..
Dia kelihatan heran karena, Buku Pelajaran dan bahan ajar yang mestinya dipakai siswa-siswa di sekolah ternyata banyak tersedia di Intenet. "orang tua tidak perlu repot cari buku di toko-toko"... yah, Dinas mestinya bisa memfasilitasi kebutuhan seperti ini ke sekolah-sekolah, dan bukannya meminta orang tua bertawar ria di toko-toko.
Komenku pendek saja " Dinas belum pikir tentang itu". Satu jam, dia sibuk dengan dunia "para bahan". Aku melirik sebentar, kali ini dia sudah sampai di BS-e alias Buku Sekolah Elektronik.. selamat berdownload ria..