Thursday, September 10, 2026

Eksistensi Bahasa Tetun dan Tradisi Lisan Belu dalam Menghadapi Arus Modernisasi Global

Itu Thema kegiatan Seminar Semarak Kebudayaan yang diinisiasi Oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, hasil kerja aspirasi Anggota DPR RI Komisi X Fraksi PDI Perjuangan, Stevano Rizki Adranacus. Kegiatan  berlangsung di Gedung Bete Lalenok; 10 September 2026.

Sebagai salah satu Narasumber, saya membedah thema ini dalam beberapa suasana. Ada kegembiraan diawal karena momentum sekelas ini, jarang terjadi di Kabupaten Belu. Seminar, diskusi publik, sarasehan, apapun itu bentuk diskusi pencerahan memang jarang dilangsungkan. Maka kesempatan ini baik adanya; apresiasi untuk Pak Stevano Adranacus yang berhasil membidik isu Kebudayaan  sebagai salah satu kerja politik yang nyata.

Bahasa menunjukkan Bangsa. Sebuah bangsa merujuk pada Manusia dan Tempat dimana mereka tinggal dan membangun peradaban. Sebuah relasi yang dapat diterangkan dari Defenisi Nasionalisme Indonesia yang digagas oleh Presiden Pertama Indonesia, Ir. Soekarno. Hal ini kemudian dapat kita lihat di Belu, Persis di tengah Kota Atambua, pernah tumbuh dan berdiri satu Pohon Beringin yang ditanam oleh Ir. Soekarno pada kunjungan ke Belu, Mei 1954. Empat tahun sebelum  Kabupaten Belu resmi lahir dan berdiri sebagai sebuah Wilayah Administrasi dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Pohon beringin memang hanya sebuah simbol Persatuan dalam sila ke-3 Pancasila, namun makna yang lebih mendalam adalah peristiwa yang melatari kelahiran simbol itu sendiri. Dikisahkan bahwa pada saat kunjungan Presiden Pertama itu, di lapangan umum Atambua ribuan masyarakat adat dan warga umum, anak sekolah, pejabat Gereja menyambut peristiwa itu. Masyarakat membentangkan kain adat, melapaskan hiasan emas yang mereka pakai, lalu menaruhnya di atas kain yang dibentangkan, berharap Bung Karno berjalan melewati pagar betis itu. Namun yang terjadi adalah, Bung Karno malah berjalan di tepian. Sama sekali tidak menapakkan kakinya diatas bentangan kain-kain adat yang bertaburan emas tersebut. Lalu, dalam pidatonya, Beliau menyampaikan alasannya, bahwa kain adat adalah ekspresi budaya masyarakat adat di Belu, Sebagai Presiden, beliau tidak ingin menginjak-injaknya. Kebudayaan oleh Bung Karno harus ditempatkan sebagai salah satu fondasi dalam Trisaksi Indonesia, Berkepribadian dalam Bidang Kebudayaan. Pidato itu kemudian dikukuhkan melalui penyerahan Bendera Merah Putih kepada seorang Liurai dan masih tersimpan hingga kini di Kabupaten Malaka.

Kabupaten Belu di masa lalu, adalah bagian dari dua wilayah geografis, pula geopolitik Utara (Belu) dan Selatan (Malaka), Foho dan Fehan, dataran tinggi dan dataran rendah serta lautan di bagian Utara dan Selatan yang dikenal dengan sebutan Tasifeto dan Tasimane.  “Belu” sendiri bermakna sebagai kawan dekat, sahabat, persaudaran  yang mengembangkan kesetaraan. Dengan Motto “Husar Binan Rai Belu, Tetuk no Kmanek” dapat diartikan sebuah semboyan keramat, Dengan semangat Persaudaraan kita membangun masyarakat Belu menuju tercapainya adil sejehtera kesejahteraan lahir batin.

Bahasa Tetun dengan langgam tutur adalah hasil dari perkembangan sebuah kebudayaan dari masyarakat yang memiliki identitas Tetun. Dan mudah ditelusuri dari Bahasa, nama suku dan setiap nama tempat. Lebih dari itu, Nama dari 12 Kecamatan, 81 Desa, 12 Kelurahan  yang ada di Belu, ada sekitar 75 persen dalam Bahasa Tetun.

Hal ini dapat ditelusuri melalui Identifikasi Tradisi Lisan, terdapat jenis Sastra Lisan Belu seperti puisi adat/takkan pada ungkapan tradisional, lirik lagu daerah: Tolak bala, atau tradisi pemulihan hubungan dengan leluhur (menggunakan binatang). Cerita Rakyat (Dongeng) / Aikanoik; Puisi Rakyat : Aikananuk, Pantun Rakyat Aibabelen, nyanyian seperti Lakumerin. Ada sajak tradisional yang diucapkan secara adat misalnya Hase Hawaka, Ho Dean, ada syair dalam tarian Tebe, lagu daerah yang menceritakan kisah keseharian. Haholek Wani dan Kari Fos, Leno Urat pada usus hewan seperti ayam atau babi, atau Tunu / korban kabaran untuk maksud tertentu, mohon restu suksesnya sebuah hajatan.  

Eksistensi Bahasa Tetun juga memiliki fungsi sosial sebagai perekat antar masyakarat Belu yang bukan saja berasal dari etnik Tetun, tetapi juga ada Etins besar lainnya sepeti Etnis Bunak, Kemak dan Dawan. Dalam perjalanan sejarah, di tiga puluh tahun terakhir ini, Belu juga mendapat kekayaan baru dengan kehadiran anak-anak Indonesia kelahiran Timor-Timur,  Timor Leste hari ini, pula didominasi suku-suku Tetun, Bunak dan Kemak serta suku-suku lainnya. Perkembangan masyarakat di Belu mampu dijembatani oleh Bahasa Tetun dengan tradisi lisan dalam penyelesaian konflik, menjaga perdamaian, gotong royong dan merekatkan hubugan kekerabatan antar komunitas di Belu.

Kehadiran berbagai komunitas seperti Sobat, Timor Oan, Komunitas Masyarakat Fehalaran, dan komunitas lainnya dengan identitas etnik adalah gambaran langsung dari sebuah kepedulian membangun bangsa, yang itu dimulai dengan percapakan dalam Bahasa persaudaraan, dan Bahasa Tetun sudah barang tentu ada dalam bagian penting ini.

Ditengah tantangan moderniasi dan kemajuan Teknologi masa kini, Eksistensi Bahasa Tetun masih dapat dipertahankan melalui beberapa cara antara lain :

  1. Inventarisasi Uma Metan / Nama Suku-Suku yang ada di Kabupaten Belu yang tersebar di 12 Kecamatan; berikut sejarah perkembangannya. Dimulai dari empat etnis Besar, Tetun, Bunak Kemak dan Dawan, akan berkembang dengan kedatangan suku-bangsa  yang ada di NTT dan Suku bangsa lainnya di Indonesia.
  2. Skrip atau catatan sejarah singkat berkenaan dengan nama-nama tempat di Belu. 
  3. Museum Belu, menjadi pusat pendidikan kebudayaan, ini beralan karena Posisi Strategis Kabupten Belu berada di Perbatasan RI- RDTL
  4. Penelitian kebudayaan yang dapat dikembangkan  oleh komunitas-Komunitas Kebudayaan.
  5. Orang muda Belu bisa mengembangkan konten-konten cerita rakyat dengan memanfaatkan fasilitas AI di masa kini. Ini menjadi bagian langsung dari jawaban terhadap tantangan modernisasi. Kemajuan teknologi mesti dipandang sebagai jalan untuk membangun kreativitas, memperkaya literature cetak dan digital tentang khasanah Bahasa Tetun, dan Bahasa lainya yang hidup berdampingan  secara damai dalam masa ke masa.
  6. Sekolah-sekolah konsisten mengembangkan Sanggar-sanggar kesenian Belu, dan konsisten dikembangkan dalam kurikulum Lokal. Ini penting sebagai manisfestasi pendidikan budi pekerti bagi fondasi moral generasi Belu masa kini dan masa depan.
  7. Masih diperlukan seminar kebudayaan setiap sekali setahun.
  8. Parade Kebudayaan. Sebuah momentum khusus menampilkan seluruh Etnis dan khasanah budaya yang ada di Kabupaten Belu.

Ini beberapa pikiran yang bisa saya sumbangkan dalam Seminar semarak Kebudayaan di Atambua. Terima kasih wain kepada Ama Nai Frid da Costa atas sumbangan beberapa pikiran yang menjadi bagian dalam tulisan ini. Sekian.

Eng di Kuneru, 10 September 2026 

Tuesday, September 1, 2026

Kesunyian itu Bernama Membaca!

Hari ini 1 September, Dunia memperingatinya sebagai Hari Menulis. Maka malam ini saya ingin menulis.

Dan pertanyaan ini muncul lebih awal, masih pentingkah menulis, ketika dunia semakin ramai dengan video, gambar bergerak, dan suara yang datang tanpa harus kita baca?

 

Kita hidup dalam zaman yang bergerak cepat.

Sebuah cerita dapat hadir dalam hitungan detik. Kita melihat, mendengar, lalu berpindah kepada cerita berikutnya. Membaca seolah-olah menjadi sesuatu yang pelan. Bahkan mungkin, bagi sebagian orang, terasa seperti kebiasaan dari masa lalu.

 

Tetapi saya masih memilih menulis.

Karena saya percaya, ada sesuatu yang tidak selesai hanya dengan melihat dan mendengar.

Mesti ada sesuatu yang perlu kita baca, dan bukankah semuanya bermula dari sana?

Seseorang menulis, yng lain membaca.

Lalu pembaca berpikir.

Dari pikiran itu, mungkin lahir sebuah pertanyaan.

Dari pertanyaan, lahir sebuah gagasan.

Dan mungkin, dari gagasan itu, seseorang kembali menulis.

Begitulah kata-kata berjalan dari manusia ke manusia.

Dari satu zaman ke zaman berikutnya.

 

Maka membaca, bagi saya, bukan sekadar menerima tulisan. 

Membaca adalah memasuki sebuah kesunyian.

Bukan kesunyian karena tak bersuara, tetapi kesunyian ketika kita akhirnya mempunyai kesempatan untuk mendengar suara dari dalam diri sendiri.

 

Di dalam kesunyian itu, pikiran bisa berkelana.

Tidak mesti kata-kata tinggi menjulang di cakrawala.

Dari sebuah bilik kecil sekalipun, pikiran dapat menangkap irama semesta.

Dan mungkin, pulang ke hati adalah cara paling mungkin untuk menyapa diri sendiri.

 

Karena itu malam ini saya tetap menulis.

Dengan apa yang saya punya.

Sebuah bilik kecil, lampu temaram, hati yang menuntun pikiran, dan gerak ritmis di sepuluh jari.

 

Saya menulis karena saya ingin seseorang membaca.

Dan saya membaca karena mungkin, dari sana, saya kembali menemukan alasan untuk menulis.

 

Selamat Hari Menulis.

Mari menulis demi menjaga mata rantai peradaban kata

Mari membaca.

Sebab di tengah dunia yang semakin ramai oleh suara, kesunyian itu bernama membaca.

 

Eng di Kuneru, 1 September 2026

Monday, August 31, 2026

Diana, Princess of Wales, In Memoriam — Etape Historis 31 Agustus

31 Agustus 1997.
 
Siang itu, Hari Minggu. Saya berada di Jakarta. Lebih tepatnya di Wisma Marinda, Jalan Percetakan Negara XI—sebuah tempat yang pada masa itu juga menjadi salah satu Markas Utama kaum pergerakan. Kala itu, Pimpinan Nasional Presidium GMNI masih bermarkas di sana. Bung Ayi Vivananda sebagai Ketua Presidium dan Ahmad Basarah sebagai Sekretaris Jenderal.

18 Agustus 1997, saya mendapat tugas dari kantor sebagai staf yang dikirim Bappeda Provinsi Nusa Tenggara Timur, Bidang Fisik dan Prasarana, untuk mengikuti Kursus Geographic Information System (GIS) di Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional—Bakosurtanal—di Cibinong, dalam periode Agustus sampai Oktober 1997. Kursus lazimnya berlaku Senin sampai Jumat, maka akhir pekan sering saya manfaatkan untuk tinggal di Wisma Marinda, berdiskusi, tambah relasi dan menyerap pengetahuan dari senior-senior GMNI dan Kelompok Cipayung.
 
Jakarta siang itu berjalan seperti biasa. Orang-orang sibuk dengan urusannya. Lalu kabar duka itu datang, Diana, Princess of Wales, mengalami kecelakaan di Paris. Seorang perempuan yang selama bertahun-tahun wajahnya begitu akrab di televisi dunia, tiba-tiba menjadi headline.

Saya tidak lagi ingat persis jam berapa pertama kali mendengar kabar itu. Yang pasti itu Hari Minggu, karena malam harinya, saya pulang ke Cibinong, urusan Kursus. Entah TVRI atau RCTI—ingatan saya tidak cukup kuat untuk memastikan. Yang saya ingat, esok harinya pada 1 September, di Mess tempat peserta kursus tinggal, kami nonton bersama program khusus RCTI “Mengenang Putri Diana” pukul 18.00 dan 21.30 WIB.

Sebuah nama membuat dunia terdiam kehilangan, Diana, Princess of Wales.
Bagi sebagian besar orang, ia tetap dikenal sebagai Lady Diana. Perempuan yang masuk ke dalam keluarga kerajaan Inggris, tetapi kemudian justru dikenal karena kedekatannya dengan rakyat biasa.
 
Ia mengunjungi rumah sakit. Mengulurkan tangan kepada penderita AIDS, persis ketika penyakit itu masih terbungkus rasa takut dan stigma. Ia mendatangi anak-anak, korban konflik, dan mereka yang hidup jauh dari kemewahan istana. Nama Lady Diana, barangkali tidak tersohor karena Istri seorang Pangeran, Pewaris Tahta Kerajaan Inggris. Putri ini, tampil bersahaja lebih karena watak kemanusiaan yang diperlihatkan tanpa pamrih “Pencitraan”, satu kata yang kerab disematkan untuk para pesohor.  

Diana seperti menemukan caranya sendiri untuk menjadi seorang putri.
Bukan hanya dengan mahkota.
Tetapi dengan kemanusiaan. 

Lalu, 31 Agustus 1997, perjalanan itu berhenti di Paris.
Kabar kecelakaan di terowongan Pont de l'Alma menyebar ke seluruh dunia. 6 September 1997, jutaan orang memenuhi jalan dan miliaran manusia lainnya menyaksikan pemakamannya dari layar televisi, Elton John menyanyikan Candle in the Wind.
Dunia kehilangan seorang putri.
 
Tetapi 31 Agustus ternyata tidak hanya menyimpan kisah tentang Diana.
Jauh sebelum dan sesudah hari itu, tanggal yang sama berkali-kali menjadi saksi ketika manusia mengubah arah sejarah.
Ada bangsa yang meneriakkan Merdeka.
Ada negara yang melepaskan diri dari penjajahan.
Ada kaum pekerja yang menantang sebuah rezim.
Ada imperium besar yang mulai pecah.
 
Begini kisahnya…
40 Tahun sebelum kepergian Putri Diana, persisnya 31 Agustus 1957. Malaya Berteriak "Merdeka!"
 
Di Stadion Merdeka, Kuala Lumpur, Tunku Abdul Rahman, Ketua Menteri Federasi  Malaya; berdiri di hadapan puluhan ribu rakyat.
Tangannya terangkat.
"Merdeka! Merdeka! Merdeka!"
Tujuh kali.
Lalu gemuruh teriakan yang sama, padu dari kurang lebih 20 ribu suara rakyat yang menyambutnya.
Bendera Federasi Malaya dikibarkan, dentuman 21 kali Meriam menggelegar. Malam sebelumnya, Union Jack, Bendera Kebangsaan Britaria Raya resmi  diturunkan untuk terakhir kalinya. Hari itu, 31 Agustus 1957, Federasi Malaya Merdeka, bebas dari Inggris. Sebuah negara baru lahir. Dan tanggal itu kemudian menjadi Hari Kebangsaan Malaysia.
 
Raja Henry V Wafat 1422
Lebih dari lima abad sebelum Diana, tanggal 31 Agustus juga mencatat kematian seorang raja Inggris: Henry V, tokoh yang dikenal karena kemenangannya dalam Pertempuran Agincourt.
Ia meninggal pada usia 35 tahun. Tahta kemudian berpindah kepada putranya, Henry VI, yang ketika itu masih bayi.
Seorang raja yang dikenal karena medan perang akhirnya meninggal bukan di medan pertempuran.
 
31 Agustus 1945. Indonesia Menjadikan "Merdeka" Sebagai Salam
Dua minggu sebelumnya, Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya, 17 Agustus 1945. Tetapi kemerdekaan Indonesia tidak berhenti pada selembar teks proklamasi.
Semangat itu harus hidup di tengah rakyat yang masih menghadapi perang dan ketidakpastian. Masih berhadapan langsung muka ketemu muka dengan bangsa penjajah yang menolak kemerdekaan Bangsa Indonesia, Penjajah tidak mau segera angkat kaki, masih mau bercokol di Negeri ini. Maka, Pada akhir Agustus 1945, pemerintah Republik Indonesia mendorong penggunaan kata "Merdeka" sebagai salam nasional.
Hanya Satu kata.
Hanya Satu gerakan. “angkat tangan setinggi bahu, telapak menghadap depan, Merdeka!”
Sederhana, tapi menyatukan semangat anak bangsa. Di tengah revolusi, satu kata jadi identitas bangsa. Tegas, Lawan!
Orang Indonesia yang bertemu tidak sekadar menyapa, itu menjadi ingatan Nasional dalam menyapa satu sama lain,: Kita sudah merdeka.
Menariknya, beberapa tahun kemudian, kata yang sama kembali menggema di negeri tetangga.
 
1962. Di belahan dunia yang lain, Trinidad dan Tobago merdeka dari Inggris pada 31 Agustus 1962.
Negara kepulauan di Karibia itu memasuki babak baru sebagai negara merdeka.
Dua negara yang sangat jauh dari Asia Tenggara, tetapi mempunyai pengalaman yang mirip: sebuah tanggal yang dahulu menandai berakhirnya kekuasaan kolonial kemudian berubah menjadi simbol identitas nasional.
 
1980. Sebuah Galangan Kapal Mengguncang Eropa
Mungkin inilah salah satu peristiwa 31 Agustus yang paling penting tetapi tidak selalu kita ingat.
Gdańsk, Polandia.
Sebuah galangan kapal. Para pekerja melakukan pemogokan.
Pada 31 Agustus 1980, pemerintah Polandia dan perwakilan para pekerja menandatangani Gdańsk Agreement. Kesepakatan itu membuka jalan bagi terbentuknya serikat buruh independen Solidarity. Sesuatu yang kelihatannya hanya persoalan buruh ternyata berkembang menjadi jauh lebih besar.
Gerakan itu menjadi salah satu kekuatan penting yang menantang dominasi rezim komunis di Polandia dan ikut membuka jalan menuju perubahan politik Eropa Timur pada akhir 1980-an. Sejarah terkadang memang dimulai dari tempat yang tidak dianggap penting. Bukan istana. Bukan gedung parlemen.
Tetapi dari sebuah tempat kerja, ketika orang-orang biasa berkata: “cukup!”.
 
1991. Uni Soviet Mulai Pecah dari Dalam
Tahun 1991 adalah tahun yang luar biasa dalam sejarah dunia. Uni Soviet sedang menuju akhir kehidupannya.
Pada 31 Agustus 1991, Kyrgyzstan menyatakan kemerdekaannya dari Uni Soviet.
Pada tanggal yang sama, Uzbekistan juga mendeklarasikan kemerdekaannya. Uzbekistan kemudian memperingati 1 September sebagai Hari Kemerdekaan.
Dalam beberapa bulan berikutnya, Uni Soviet benar-benar bubar.
Sebuah negara adidaya yang selama puluhan tahun menjadi salah satu kutub utama dunia akhirnya tinggal sejarah. Dan 31 Agustus menjadi salah satu tanggal yang tercatat dalam proses pecahnya negara raksasa tersebut.
 
31 Agustus : Hari Kesadaran Overdosis
Sebuah tanggal peringatan. Lilin Untuk Yang Pergi Terlalu Cepat. Sejak 2001, dunia memperingati Hari Kesadaran Overdosis. Bukan untuk menghakimi, tapi untuk mengingat. Mengingat Manusia, saudara, teman, keluarga yang pergi karena narkoba. Sekaligus mengingatkan kita: bahaya itu nyata, dan pencegahan itu perlu.

Dari Wisma Marinda, saya sama sekali tidak pernah membayangkan bahwa bertahun-tahun kemudian saya akan kembali membuka tanggal itu dan menemukan begitu banyak potongan sejarah di dalamnya.
 
Barangkali memang begitu cara sejarah bekerja, lalu kita tidak selalu tahu bahwa kita sedang berada di dalamnya. Kita bahkan baru menyadarinya setelah waktu berjalan jauh. Dan ketika kita menoleh ke belakang, ternyata tanggal yang dahulu terasa biasa saja telah menyimpan cerita.
 
31 Agustus bukan hanya tanggal ketika bangsa-bangsa membuat sejarah. Pada zaman digital, tanggal itu juga menjadi hari ketika para blogger diajak saling memperkenalkan dunia mereka.
 
Ini Bukan tentang presiden.
Bukan tentang kerajaan.
Bukan tentang perang.
Tentang kita.
 
Tentang orang-orang biasa yang menulis dari kamar, meja kerja, warung kopi, atau sudut rumahnya, lalu mengirimkan pikirannya ke dunia.
 
Tahun 2005, lahirlah BlogDay, yang diperingati setiap 31 Agustus. Gagasannya sederhana: temukan blog lain, kenalkan kepada pembaca, dan biarkan orang menemukan dunia yang mungkin sebelumnya tidak mereka kenal.
Menariknya, angka 31/08 dibaca sebagai 3108, yang secara visual dianggap menyerupai kata blog.
Maka pada 31 Agustus, sejarah tidak hanya ditempa oleh bangsa dan tokoh besar.
Ia juga ditulis oleh para blogger, yang duduk sendirian di depan layar, lalu memilih untuk menekan tombol “Publikasikan”.
 
Lalu, dari sudut Kota Atambua, Di suatu tempat bernama Kuneru, saya menulis sekali lagi. Mengingatkan bahwa tanggal 31 Agustus memang punya cerita itu semua. Silahkan sidang pembaca memberi makna. sekian.
 
Eng di Kuneru, 31 Agustus 2026 

Sunday, August 30, 2026

Kita Anak Negeri

Solidaritas dalam Nada, untuk semua Korban dan Para Penolong atas Gempa di Flores, 15 Agustus 2026

https://suno.com/s/zgarPHBvYghe58ex 


Eng di Kuneru, 30 Agustus 2026

Friday, August 14, 2026

Kuali Cita Rasa Kemerdekaan









81 tahun berlalu. Kemerdekaan Indonesia yang diproklamasikan pada 17 Agustus 1945 oleh        Ir. Soekarno didampingi Drs. Mohammad Hatta—dua tokoh yang kemudian dikenal sebagai Dwi Tunggal—menjadi tonggak penting dalam perjalanan lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia.


Ragam cara orang Indonesia menyambut ulang tahun kemerdekaan negaranya. Dari riang gembira sampai wujud prihatin. Di beberapa sudut kampung, satu dua anak negeri menolak mengibarkan Sang Dwi Warna Merah putih, alasannya pendek. Indonesia “belum  Merdeka”.

 

Sebagian besar anak negeri merayakan kemerdekaan dengan begitu banyak bentuk kegiatan. Napak tilas perjuangan merebut kemerdekaan diwujudkan melalui berbagai lomba, mulai dari permainan rakyat hingga gerak jalan. Ada pula karnaval dan parade yang memenuhi ruas-ruas jalan kota. Beragam busana, seragam, atribut, atraksi, drum band dan marching band hadir dalam suasana riang, tanpa sekat usia maupun jenis kelamin.

 

Di sana, tua muda, laki-laki dan perempuan, dari berbagai suku dan latar belakang, berjalan bersama dalam satu suasana. Perbedaan seakan melebur dalam sebuah ruang kebersamaan, dalam Kuali Cita Rasa Kemerdekaan. Tanpa beban, semua hadir membawa kegembiraan, kebanggaan dan rasa syukur karena Indonesia masih hidup, berdiri, dan terus berjalan sejajar di antara bangsa-bangsa dunia.

 

Di dalam kuali itulah berbagai cita rasa bertemu. Ada semangat kebangsaan, persaudaraan, kegembiraan, bahkan harapan. Semuanya berpadu menjadi satu rasa: Indonesia Raya.

Satu cita rasa yang mendorong bertemunya semangat kebangsaan yang utuh, Indonesia Raya.

Inilah negeri para pejuang, untuk seluruh ahli waris para pejuang kemerdekaan. Di masa lalu, para pahlawan merebut kemerdekaan, generasi setelahnya berjuang mengisi dan membangun kemerdekaan Indonesia itu. Semua hanya untuk membuat jadi nyata cita-cita proklamasi 17 Agustus 1945.

81 tahun berlalu. Cita-cita proklamasi itu memang belum sejatinya sempurna, tidak mengapa. Banyaknya persoalan hidup dalam tantangan di masa-masa sulit, terlebih situasi ekonomi saat ini, Indonesia masih hidup. Rakyatnya masih terus berjuang, bertahan dalam gempuran kebijakan negara.

Meski isi kantong masih senin kamis, relasi sosial kadang meresahkan, urusan keputusan politik acapkali membingungkan, layanan kesehatan adakalanya menjengkelkan, urusan makan dan minum hari ini faktanya masih jadi soal buat ribuan  manusia Indonesia, masih banyak lagi. Lalu, apakah lalu itu semua membikin kita patah dan kehilangan nyawa Indonesia? Tentu tidak!.

Nyatanya, kita semua masih bisa melewati malam di bawah cakrawala Indonesia, tanpa desingan peluru, dan dentuman bom, hujaman meriam dalam sebuah konflik perang. Sesulit apapun tantangan hidup itu, toh semua kita masih berkesempatan untuk menjawab kebutuhan hidup masing-masing dalam suasana Indonesia yang aman dan damai. Generasi yang lahir dan bertumbuh, pun ada dalam suasana itu pula.

Diheningku, rasa syukur itu aku panjatkan. Tuhanku, terima kasih telah menitipkan aku di tanah air Indonesia ini. Dari jaman moyangku, orangtua hingga anak-anak kami. Dengan jujur dan berani, dengan bangga dan ikhlas mengaku, “Kami anak Negeri Ini” , hingga akhir menutup mata.

Dirgahayu Kemerdekaan Republik Indonesia ke – 81, sekali Merdeka, tetap Merdeka!

Eng di Kuneru, 14 Agustus 2026 

Sunday, February 22, 2026

"Scroll"

Jari kita bergerak hampir tanpa sadar. Satu layar turun, lalu yang lain menyusul, seperti halaman-halaman yang tak pernah benar-benar selesai dibaca. Dunia tersaji begitu  cepat, sama cepatnya dengan lewat di depan mata. Wajah, sendiri, ramai-ramai, kabar, tawa, kemarahan, inovasi, harapan; segala tema, beragam makhluk, segala usia dan jenis kelamin. Semuanya hadir. Hanya sesaat sebelum menghilang ke bawah layar.

Kita menyebutnya scroll, gerakan kecil yang tampak sederhana, tetapi mungkin itulah cara manusia modern berjalan: terus menuju perhentian berikutnya tanpa benar-benar tinggal di mana pun.

Kadang terasa hidup ini sendiri seperti jutaan lembaran yang terus berganti. Kita membaca sedikit, memahami sebagian, lalu melanjutkan lagi, seolah ada sesuatu di depan sana yang lebih penting untuk ditemukan. Namun semakin jauh kita bergerak, semakin samar pertanyaan yang diam-diam mengikuti: apakah kita sedang mencari sesuatu… atau hanya takut berhenti?

Di antara gerakan yang tak henti itu, mungkin ada satu hal yang sebenarnya kita tunggu, satu titik diam. Tempat di mana jari tidak lagi tergesa, pikiran tidak lagi berpindah, dan kita akhirnya tinggal cukup lama untuk merasakan bahwa kita benar-benar hadir.

Kita terus scroll, bukan karena ingin melihat lebih banyak, tetapi karena belum menemukan sesuatu yang cukup membuat kita berhenti.

Layar terus bergerak ke bawah, sementara hati diam-diam mencari satu halaman yang terasa seperti pulang. Di balik gerakan tanpa henti itu, mungkin yang kita cari bukan hal baru, melainkan satu titik diam.

Kita tidak lelah melihat dunia; kita hanya lelah tidak menemukan tempat untuk tinggal sejenak. Scroll membawa kita melewati banyak cerita, tetapi jarang membawa kita kembali kepada diri sendiri.

Hidup terasa seperti jutaan lembaran yang terus berganti, dan kita terus bergerak, berharap ada satu halaman yang akhirnya cukup. Mungkin yang membuat kita terus menggeser layar bukan rasa ingin tahu, melainkan harapan kecil bahwa di bawah sana ada sesuatu yang mengerti kita.

Pada akhirnya, setiap scroll adalah perjalanan menuju kemungkinan sederhana: menemukan alasan untuk diam.

Eng di Kuneru, 22 Februari 2026

Saturday, February 21, 2026

19.54 Wita – Malam di Pasar Baru Atambua

Gerimis sejak senja belum ada tanda-tanda berhenti.

Ini suasana di tepi jalan, pedagang kecil buah sayuran  lokal telah menghampar jualannya, hampir disepanjang Jalan Pramuka, persis dalam jantung Pasar Baru Atambua.

Lampu kendaraan hilir mudik memantul di jalan basah. Beberapa emak duduk menjaga jualannya, tanpa tutup kepala, hanya beberapa inci dari roda kendaraan yang melintas. Tubuh mereka hampir sejajar dengan sayur dan buah yang dihampar di atas karung plastik, seolah malam itu mereka dan dagangannya menjadi satu.

Dari cerita emak-emak disitu, mereka sudah ada sejak sore, datang dari Oenopu. Itu satu tempat di Wilayah Kabupaten tetangga, TTU.  Berjarak kurang lebih 40 km dari Atambua. Beberapa pedagang lain, berasal dari TTU, namun sebagian besar pedagang datang dari pelosok desa di Kabupaten Belu.

Siklus perputaran uang dari pedagang-pedagang kecil ini memberi dampak hidupnya kota, tak kenal musim. Padahal sudah dua minggu ini, curah hujan dengan intensitas tinggi, nyaris hanya menyisakan satu dua hari kering.

Malam ini mereka bertahan, menutup jualannya pukul sembilan malam, lalu tidur di emperan toko, menanti pagi untuk kembali berjualan. Demi hidup yang harus ditebus.
Istriku Bernadetha membeli satu sisir pisang emas seharga sepuluh ribu rupiah. Kami pulang. Namun pikiranku masih tertinggal di sana.

Eng di Pasar Baru, 21 Februari 2026  

Friday, February 20, 2026

Dipanggil untuk Kembali

Hari ini kita memulai Jalan Salib pertama dalam masa pertobatan. Kita datang bukan sebagai orang yang sempurna, tetapi sebagai manusia yang sering lemah dan jatuh. Abu di kening beberapa hari lalu mengingatkan kita bahwa hidup ini rapuh dan sementara. Namun justru dalam kerapuhan itulah Tuhan memanggil kita untuk kembali.

Yesus memulai jalan penderitaan-Nya dengan ketaatan yang sunyi, Ia berjalan karena kasih.

Jalan Salib hari ini mengajak kita berhenti sejenak dari kesibukan hidup, melihat ke dalam hati, dan bertanya dengan jujur: ke mana arah hidupku selama ini?

Pertobatan tidak selalu berarti perubahan besar sekaligus. Kadang pertobatan dimulai dari langkah kecil — hati yang mau mengampuni, kata-kata yang lebih lembut, atau waktu doa yang sederhana namun tulus.

Hari ini Tuhan tidak menuntut kita menjadi suci seketika. Ia hanya mengundang kita untuk melangkah kembali kepada-Nya. Satu langkah kecil, tetapi dengan hati yang terbuka.

Semoga perjalanan Jalan Salib ini menjadi awal pembaruan hidup kita, agar perlahan kita berjalan semakin dekat dengan kasih Tuhan, yang selalu menunggu tanpa lelah.

Semoga Tuhan Yesus, menuntun langkah awal pertobatan ini, menuntun kita kembali kepada-Nya dengan rendah hati dan penuh harapan. 


Eng di Kuneru, 20 Februari 2026 

Thursday, February 19, 2026

Rabu Abu — Gerbang Pertobatan Menuju Kebangkitan

Rasanya belum lama kita merayakan Natal, namun perjalanan iman kembali membawa umat Katolik memasuki masa pra-Paskah, sebuah lorong waktu selama empat puluh hari untuk hening, merenung, dan bertobat. Abu yang ditorehkan di kening menjadi pengingat sederhana namun mendalam: manusia berasal dari tanah dan akan kembali menjadi tanah; hidup hanya karena kasih Allah, sementara segala yang duniawi hanyalah sementara.


Tanah itu rapuh — sebagaimana manusia yang mudah jatuh dalam kelemahan dan kesalahan. Karena itu, masa ini bukan waktu untuk takut, melainkan kesempatan untuk kembali. Melalui doa, puasa, dan karya kasih, hati dimurnikan dan arah hidup diperbarui.

Abu bukan tanda akhir, tetapi awal perjalanan batin. Dari kesadaran akan kefanaan menuju harapan akan kebangkitan. Empat puluh hari ini adalah undangan untuk menjadi manusia baru — lebih rendah hati, lebih penuh kasih, dan lebih dekat kepada-Nya yang menjadi sumber kehidupan.

 

Seorang Debu di Kuneru, 19 Februari  2026

Monday, January 19, 2026

Ini... Senin

 "Bukan Senin yang kita benci, melainkan hidup yang rela (atau terpaksa) kita ulangi.”


Eng di Kuneru, 19 Januari 2026

Sunday, January 18, 2026

Selamat Hari Minggu…












Hari Minggu rasanya tidak pernah benar-benar berubah.
Ia datang lagi, dengan cara yang sama. Tenang, pelan, dan setia. Tidak terburu-buru.

Dan entah mengapa, selalu tinggal lebih lama di batin.
Atas nama pesan tentang hubungan manusia dengan Pencipta-Nya, tentang manusia dengan sesamanya, pula tentang manusia dengan tempat di mana kita hidup.
Lalu mengalir ke muara kerinduan untuk pulang kepada perintah-Nya.

Bukankah kita sungguh ada pada-Nya setiap hari?
Dalam doa singkat, dalam ucapan syukur di saat senang, dan keluhan yang terucap diam-diam.
Dia yang tidak terlihat itu, rasanya sedang ada di hadapan kita, menyaksikan akrobat hidup yang kita kerjakan.

Hari Minggu, hari baik untuk belajar berserah tanpa menyerah.
Belajar untuk yakin dan percaya tanpa harus memahami segalanya.
Belajar untuk pulang kepada-Nya, meski langkah kaki masih mengurai bumi, namun hati kita tahu ke mana ia harus kembali.

Lalu mengapa Hari Minggu terasa begitu lebih spesifik, begitu berbeda?

Boleh jadi, di hari yang “Minggu” ini, kita berhenti sebentar.
Bukan untuk menjauh dari dunia, tapi untuk berada lebih dekat kepada-Nya.
Karena menurutku, perjumpaan dengan-Nya tidak mesti selalu ramai.
Segala urusan hidup yang terlampau hiruk-pikuk itu, menjadi sunyi di hadapan-Nya.

Dan dari sanalah kita disiapkan.
Untuk melewati satu menit ke depan, satu jam lagi, satu hari, atau sesuatu yang bahkan belum terpikirkan.
Karena hidup bisa berubah kapan saja.
Hari Minggu mengingatkan kita akan itu, tanpa rasa takut.

Hari untuk mempersiapkan segala sesuatu.
Menguatkan tujuan, cita-cita, dan harapan hidup.

Hari Minggu, hari baik untuk membawa kita semua pulang kepada keluarga masing-masing;
suami kepada istri, istri kepada suami, anak-anak kepada orang tua, pun sebaliknya.
Juga kepada sesama sanak saudara dan saudari.
Karena setiap kita berasal dari keluarga, tempat bersandar dan saling menopang di dunia yang keras ini.

Semua kita akan melewati hari-hari itu.
Menapaki satu minggu yang akan datang dengan iman yang diperbarui,
dengan asa yang tetap bernyala,
dan pengabdian yang tetap bernyawa.

Tuhan sertamu selalu.
Salam sejahtera…

Eng di Kuneru, 18 Januari 2026

 

Friday, January 16, 2026

Fenomena Kenaikan Harga Emas Sepanjang Sejarah. Mengapa Selalu Menarik?

Sejak lama, emas telah menempati posisi istimewa dalam kehidupan manusia. Emas bukan sekadar logam mulia, tetapi simbol nilai, kepercayaan, dan ikatan. Cincin perkawinan terbuat dari emas. Mahar perkawinan lebih didominasi produk emas. Diberbagai  budaya, peristiwa-peristiwa penting dalam hidup hampir selalu “diikat” dengan emas.

Pertanyaannya kemudian sederhana namun menarik, “mengapa emas terus bertahan, bahkan cenderung naik nilainya dari waktu ke waktu?”

ilustrasi emas sebagai simbol nilai dan waktu dalam genggaman manusia

Bukan hanya dalam tradisi, emas juga hadir dalam dunia modern. Hampir semua perangkat elektronik, telepon genggam, laptop, televisi, PC, mengandung komponen emas dalam jumlah kecil. Itulah sebabnya para pekerja rongsokan rajin mengumpulkan perangkat elektronik bekas. Emas dipilih bukan tanpa alasan: ia konduktor yang sangat baik, tahan korosi, dan memiliki kualitas tinggi yang sulit digantikan. Itulah makanya, emas adalah standar mutu, secara simbolik maupun fungsional.

Jika kita menoleh ke belakang, mencermati sejarah perkembangannya,  ada satu hal yang relatif konsisten dalam sejarah ekonomi dunia yakni kecenderungan kenaikan nilai emas dalam jangka panjang. Meski dari sisi harga, kadang naik dan turun dalam jangka pendek, emas toh tetap menarik perhatian, baik bagi investor besar maupun masyarakat umum; karena sejatinya; Emas tetap menanjak nilainya.

Berikut ini adalag beberapa alasan, kenapa emas memiliki daya tarik yang begitu kuat?

1. Emas Bukan Sekadar Logam, tapi Simbol Nilai

Sejak ribuan tahun lalu, emas digunakan sebagai alat tukar dan penyimpan nilai. Berbeda dengan uang kertas yang dapat dicetak tanpa batas, jumlah emas di dunia terbatas. Keterbatasan inilah yang memberi emas nilai intrinsik dan membuatnya relatif tahan terhadap inflasi.

Ketika nilai mata uang melemah atau kepercayaan terhadap sistem keuangan menurun, emas sering kali menjadi tempat berlindung alias safe haven, dan ini menjadi pilihan banyak orang.

2. Inflasi dan Ketidakpastian Global

Sepanjang sejarah, manusia selalu hidup berdampingan dengan ketidakpastian: Inflasi, Krisis ekonomi, Konflik geopolitik, Perubahan kebijakan moneter yang sulit diprediksi.

Dalam kondisi seperti ini, kepercayaan terhadap mata uang atau instrumen keuangan tertentu bisa goyah. Namun eksistensi Emas, dengan reputasinya yang panjang, hadir sebagai alternatif yang dianggap lebih stabil. Ketika permintaan meningkat, harga pun terdorong naik.

3. Peran Bank Sentral dan Investor Besar

Banyak bank sentral dunia masih menyimpan emas sebagai cadangan negara. Ketika bank-bank sentral menambah cadangan emas, pasar menangkap sinyal kuat bahwa emas tetap dipandang sebagai aset strategis.

Hal yang sama dilakukan investor besar dan institusi keuangan. Saat pasar saham atau obligasi dianggap berisiko, dana sering dialihkan ke emas. Dampaknya sederhana: permintaan naik, harga dengan sendirinya mengikuti.

4. Fluktuasi Jangka Pendek vs Nilai Jangka Panjang

Untuk point ini, penting untuk membedakan dua hal : 1) Fluktuasi jangka pendek (harian atau mingguan), dan 2)  Tren jangka panjang.

Harga emas bisa turun tajam dalam waktu singkat akibat sentimen pasar, perubahan suku bunga, atau penguatan dolar. Namun jika kita melihat grafik puluhan tahun, arah besarnya tetap menunjukkan kenaikan. Di sinilah emas dipahami bukan sebagai alat spekulasi semata, melainkan sebagai pelindung nilai.

5. Relevansi Emas di Era Modern

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, mulai dari saham digital hingga aset kripto, emas tidak kehilangan perannya. Justru sebaliknya, emas semakin mudah diakses melalui berbagai bentuk, antara lain : Emas fisik, tabungan emas, dan kontrak derivatif dan instrumen trading.

Intinya, Emas tetap relevan; yang berubah hanyalah cara manusia berinteraksi dengannya.

Penutup

Fenomena kenaikan harga emas dari waktu ke waktu bukanlah kebetulan. Ia lahir dari kombinasi sejarah panjang, keterbatasan sumber daya, psikologi manusia, dan dinamika global.

Memahami emas bukan soal ikut-ikutan tren, melainkan memahami fungsinya sebagai pelindung nilai dan alat diversifikasi. Dengan pemahaman yang tenang dan utuh, emas dapat menjadi bagian penting dalam perencanaan keuangan jangka panjang, berjalan perlahan, tapi konsisten.

Diatas segalanya, Nilai emas pasti dan selalu ada di tangan manusia, bukan sekadar di pasar.

Eng di Kuneru, 16 Januari 2026

Menulis Kembali, Setelah Sekian Lama

Ada masa ketika laman ini sunyi...

Bukan karena tidak ada yang ingin dikatakan, melainkan karena hidup seringkali menuntut kita untuk lebih banyak berjalan daripada menulis. Kata-kata tertahan di kepala, pengalaman menumpuk di dada, sementara waktu terus bergerak tanpa menunggu siapa pun.

Blog ini lahir bertahun-tahun lalu, ketika menulis masih terasa sebagai cara paling jujur untuk berbicara dengan diri sendiri dan dengan dunia. Tidak untuk mengejar jumlah pembaca, apalagi popularitas, melainkan sekadar meninggalkan jejak: bahwa kita pernah berpikir, pernah gelisah, dan pernah peduli, pernah punya cita-cita, dan ini dan terus hidup seusia lamanya hidup.

Hari ini, saya kembali membuka halaman ini dengan kesadaran yang berbeda. Usia bertambah, pengalaman menebal, tetapi banyak persoalan ternyata tidak benar-benar berubah. Pendidikan masih menjadi harapan yang tertatih, keadilan masih sering terasa jauh, dan manusia kecil masih kerap berdiri sendirian di persimpangan hidupnya.

Menulis kembali bukan berarti mengulang masa lalu, melainkan "berdialog dengannya". Apa yang dulu saya tulis, hari ini saya baca ulang—bukan untuk disesali, tetapi untuk dipahami. Jika sebagian tulisan terasa naif, itu wajar. Jika sebagian lain masih relevan, itu justru pertanyaan besar bagi kita semua.

Blog ini akan berjalan pelan. Tidak rutin mengejar algoritma. Tidak sibuk memburu sensasi. Ia akan diisi catatan-catatan kecil tentang manusia, pendidikan, dan kehidupan sehari-hari—dari sudut pandang warga biasa yang mencoba tetap waras di tengah dunia yang bising.

Jika Anda menemukan sesuatu di sini yang membuat Anda berhenti sejenak, berpikir, atau sekadar menghela napas, itu sudah lebih dari cukup.

Kita mulai lagi. Pelan-pelan.

Eng di Kuneru, 16 Januari 2026