Friday, August 14, 2026

Kuali Cita Rasa Kemerdekaan









81 tahun berlalu. Kemerdekaan Indonesia yang diproklamasikan pada 17 Agustus 1945 oleh        Ir. Soekarno didampingi Drs. Mohammad Hatta—dua tokoh yang kemudian dikenal sebagai Dwi Tunggal—menjadi tonggak penting dalam perjalanan lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia.”


Ragam cara orang Indonesia menyambut ulang tahun kemerdekaan negaranya. Dari riang gembira sampai wujud prihatin. Di beberapa sudut kampung, satu dua anak negeri menolak mengibarkan Sang Dwi Warna Merah putih, alasannya pendek. Indonesia “belum  Merdeka”.

 

Sebagian besar anak negeri merayakan kemerdekaan dengan begitu banyak bentuk kegiatan. Napak tilas perjuangan merebut kemerdekaan diwujudkan melalui berbagai lomba, mulai dari permainan rakyat hingga gerak jalan. Ada pula karnaval dan parade yang memenuhi ruas-ruas jalan kota. Beragam busana, seragam, atribut, atraksi, drum band dan marching band hadir dalam suasana riang, tanpa sekat usia maupun jenis kelamin.

 

Di sana, tua muda, laki-laki dan perempuan, dari berbagai suku dan latar belakang, berjalan bersama dalam satu suasana. Perbedaan seakan melebur dalam sebuah ruang kebersamaan, dalam Kuali Cita Rasa Kemerdekaan. Tanpa beban, semua hadir membawa kegembiraan, kebanggaan dan rasa syukur karena Indonesia masih hidup, berdiri, dan terus berjalan sejajar di antara bangsa-bangsa dunia.

 

Di dalam kuali itulah berbagai cita rasa bertemu. Ada semangat kebangsaan, persaudaraan, kegembiraan, bahkan harapan. Semuanya berpadu menjadi satu rasa: Indonesia Raya.

Satu cita rasa yang mendorong bertemunya semangat kebangsaan yang utuh, Indonesia Raya.

Inilah negeri para pejuang, untuk seluruh ahli waris para pejuang kemerdekaan. Di masa lalu, para pahlawan merebut kemerdekaan, generasi setelahnya berjuang mengisi dan membangun kemerdekaan Indonesia itu. Semua hanya untuk membuat jadi nyata cita-cita proklamasi 17 Agustus 1945.

81 tahun berlalu. Cita-cita proklamasi itu memang belum sejatinya sempurna, tidak mengapa. Banyaknya persoalan hidup dalam tantangan di masa-masa sulit, terlebih situasi ekonomi saat ini, Indonesia masih hidup. Rakyatnya masih terus berjuang, bertahan dalam gempuran kebijakan negara.

Meski isi kantong masih senin kamis, relasi sosial kadang meresahkan, urusan keputusan politik acapkali membingungkan, layanan kesehatan adakalanya menjengkelkan, urusan makan dan minum hari ini faktanya masih jadi soal buat ribuan  manusia Indonesia, masih banyak lagi. Lalu, apakah lalu itu semua membikin kita patah dan kehilangan nyawa Indonesia? Tentu tidak!.

Nyatanya, kita semua masih bisa melewati malam di bawah cakrawala Indonesia, tanpa desingan peluru, dan dentuman bom, hujaman meriam dalam sebuah konflik perang. Sesulit apapun tantangan hidup itu, toh semua kita masih berkesempatan untuk menjawab kebutuhan hidup masing-masing dalam suasana Indonesia yang aman dan damai. Generasi yang lahir dan bertumbuh, pun ada dalam suasana itu pula.

Diheningku, rasa syukur itu aku panjatkan. Tuhanku, terima kasih telah menitipkan aku di tanah air Indonesia ini. Dari jaman moyangku, orangtua hingga anak-anak kami. Dengan jujur dan berani, dengan bangga dan ikhlas mengaku, “Kami anak Negeri Ini” , hingga akhir menutup mata.

Dirgahayu Kemerdekaan Republik Indonesia ke – 81, sekali Merdeka, tetap Merdeka!

Eng di Kuneru, 14 Agustus 2026 

Sunday, February 22, 2026

"Scroll"

Jari kita bergerak hampir tanpa sadar. Satu layar turun, lalu yang lain menyusul, seperti halaman-halaman yang tak pernah benar-benar selesai dibaca. Dunia tersaji begitu  cepat, sama cepatnya dengan lewat di depan mata. Wajah, sendiri, ramai-ramai, kabar, tawa, kemarahan, inovasi, harapan; segala tema, beragam makhluk, segala usia dan jenis kelamin. Semuanya hadir. Hanya sesaat sebelum menghilang ke bawah layar.

Kita menyebutnya scroll, gerakan kecil yang tampak sederhana, tetapi mungkin itulah cara manusia modern berjalan: terus menuju perhentian berikutnya tanpa benar-benar tinggal di mana pun.

Kadang terasa hidup ini sendiri seperti jutaan lembaran yang terus berganti. Kita membaca sedikit, memahami sebagian, lalu melanjutkan lagi, seolah ada sesuatu di depan sana yang lebih penting untuk ditemukan. Namun semakin jauh kita bergerak, semakin samar pertanyaan yang diam-diam mengikuti: apakah kita sedang mencari sesuatu… atau hanya takut berhenti?

Di antara gerakan yang tak henti itu, mungkin ada satu hal yang sebenarnya kita tunggu, satu titik diam. Tempat di mana jari tidak lagi tergesa, pikiran tidak lagi berpindah, dan kita akhirnya tinggal cukup lama untuk merasakan bahwa kita benar-benar hadir.

Kita terus scroll, bukan karena ingin melihat lebih banyak, tetapi karena belum menemukan sesuatu yang cukup membuat kita berhenti.

Layar terus bergerak ke bawah, sementara hati diam-diam mencari satu halaman yang terasa seperti pulang. Di balik gerakan tanpa henti itu, mungkin yang kita cari bukan hal baru, melainkan satu titik diam.

Kita tidak lelah melihat dunia; kita hanya lelah tidak menemukan tempat untuk tinggal sejenak. Scroll membawa kita melewati banyak cerita, tetapi jarang membawa kita kembali kepada diri sendiri.

Hidup terasa seperti jutaan lembaran yang terus berganti, dan kita terus bergerak, berharap ada satu halaman yang akhirnya cukup. Mungkin yang membuat kita terus menggeser layar bukan rasa ingin tahu, melainkan harapan kecil bahwa di bawah sana ada sesuatu yang mengerti kita.

Pada akhirnya, setiap scroll adalah perjalanan menuju kemungkinan sederhana: menemukan alasan untuk diam.

Eng di Kuneru, 22 Februari 2026

Saturday, February 21, 2026

19.54 Wita – Malam di Pasar Baru Atambua

Gerimis sejak senja belum ada tanda-tanda berhenti.

Ini suasana di tepi jalan, pedagang kecil buah sayuran  lokal telah menghampar jualannya, hampir disepanjang Jalan Pramuka, persis dalam jantung Pasar Baru Atambua.

Lampu kendaraan hilir mudik memantul di jalan basah. Beberapa emak duduk menjaga jualannya, tanpa tutup kepala, hanya beberapa inci dari roda kendaraan yang melintas. Tubuh mereka hampir sejajar dengan sayur dan buah yang dihampar di atas karung plastik, seolah malam itu mereka dan dagangannya menjadi satu.

Dari cerita emak-emak disitu, mereka sudah ada sejak sore, datang dari Oenopu. Itu satu tempat di Wilayah Kabupaten tetangga, TTU.  Berjarak kurang lebih 40 km dari Atambua. Beberapa pedagang lain, berasal dari TTU, namun sebagian besar pedagang datang dari pelosok desa di Kabupaten Belu.

Siklus perputaran uang dari pedagang-pedagang kecil ini memberi dampak hidupnya kota, tak kenal musim. Padahal sudah dua minggu ini, curah hujan dengan intensitas tinggi, nyaris hanya menyisakan satu dua hari kering.

Malam ini mereka bertahan, menutup jualannya pukul sembilan malam, lalu tidur di emperan toko, menanti pagi untuk kembali berjualan. Demi hidup yang harus ditebus.
Istriku Bernadetha membeli satu sisir pisang emas seharga sepuluh ribu rupiah. Kami pulang. Namun pikiranku masih tertinggal di sana.

Eng di Pasar Baru, 21 Februari 2026  

Friday, February 20, 2026

Dipanggil untuk Kembali

Hari ini kita memulai Jalan Salib pertama dalam masa pertobatan. Kita datang bukan sebagai orang yang sempurna, tetapi sebagai manusia yang sering lemah dan jatuh. Abu di kening beberapa hari lalu mengingatkan kita bahwa hidup ini rapuh dan sementara. Namun justru dalam kerapuhan itulah Tuhan memanggil kita untuk kembali.

Yesus memulai jalan penderitaan-Nya dengan ketaatan yang sunyi, Ia berjalan karena kasih.

Jalan Salib hari ini mengajak kita berhenti sejenak dari kesibukan hidup, melihat ke dalam hati, dan bertanya dengan jujur: ke mana arah hidupku selama ini?

Pertobatan tidak selalu berarti perubahan besar sekaligus. Kadang pertobatan dimulai dari langkah kecil — hati yang mau mengampuni, kata-kata yang lebih lembut, atau waktu doa yang sederhana namun tulus.

Hari ini Tuhan tidak menuntut kita menjadi suci seketika. Ia hanya mengundang kita untuk melangkah kembali kepada-Nya. Satu langkah kecil, tetapi dengan hati yang terbuka.

Semoga perjalanan Jalan Salib ini menjadi awal pembaruan hidup kita, agar perlahan kita berjalan semakin dekat dengan kasih Tuhan, yang selalu menunggu tanpa lelah.

Semoga Tuhan Yesus, menuntun langkah awal pertobatan ini, menuntun kita kembali kepada-Nya dengan rendah hati dan penuh harapan. 


Eng di Kuneru, 20 Februari 2026 

Thursday, February 19, 2026

Rabu Abu — Gerbang Pertobatan Menuju Kebangkitan

Rasanya belum lama kita merayakan Natal, namun perjalanan iman kembali membawa umat Katolik memasuki masa pra-Paskah, sebuah lorong waktu selama empat puluh hari untuk hening, merenung, dan bertobat. Abu yang ditorehkan di kening menjadi pengingat sederhana namun mendalam: manusia berasal dari tanah dan akan kembali menjadi tanah; hidup hanya karena kasih Allah, sementara segala yang duniawi hanyalah sementara.


Tanah itu rapuh — sebagaimana manusia yang mudah jatuh dalam kelemahan dan kesalahan. Karena itu, masa ini bukan waktu untuk takut, melainkan kesempatan untuk kembali. Melalui doa, puasa, dan karya kasih, hati dimurnikan dan arah hidup diperbarui.

Abu bukan tanda akhir, tetapi awal perjalanan batin. Dari kesadaran akan kefanaan menuju harapan akan kebangkitan. Empat puluh hari ini adalah undangan untuk menjadi manusia baru — lebih rendah hati, lebih penuh kasih, dan lebih dekat kepada-Nya yang menjadi sumber kehidupan.

 

Seorang Debu di Kuneru, 19 Februari  2026

Monday, January 19, 2026

Ini... Senin

 "Bukan Senin yang kita benci, melainkan hidup yang rela (atau terpaksa) kita ulangi.”


Eng di Kuneru, 19 Januari 2026

Sunday, January 18, 2026

Selamat Hari Minggu…












Hari Minggu rasanya tidak pernah benar-benar berubah.
Ia datang lagi, dengan cara yang sama. Tenang, pelan, dan setia. Tidak terburu-buru.

Dan entah mengapa, selalu tinggal lebih lama di batin.
Atas nama pesan tentang hubungan manusia dengan Pencipta-Nya, tentang manusia dengan sesamanya, pula tentang manusia dengan tempat di mana kita hidup.
Lalu mengalir ke muara kerinduan untuk pulang kepada perintah-Nya.

Bukankah kita sungguh ada pada-Nya setiap hari?
Dalam doa singkat, dalam ucapan syukur di saat senang, dan keluhan yang terucap diam-diam.
Dia yang tidak terlihat itu, rasanya sedang ada di hadapan kita, menyaksikan akrobat hidup yang kita kerjakan.

Hari Minggu, hari baik untuk belajar berserah tanpa menyerah.
Belajar untuk yakin dan percaya tanpa harus memahami segalanya.
Belajar untuk pulang kepada-Nya, meski langkah kaki masih mengurai bumi, namun hati kita tahu ke mana ia harus kembali.

Lalu mengapa Hari Minggu terasa begitu lebih spesifik, begitu berbeda?

Boleh jadi, di hari yang “Minggu” ini, kita berhenti sebentar.
Bukan untuk menjauh dari dunia, tapi untuk berada lebih dekat kepada-Nya.
Karena menurutku, perjumpaan dengan-Nya tidak mesti selalu ramai.
Segala urusan hidup yang terlampau hiruk-pikuk itu, menjadi sunyi di hadapan-Nya.

Dan dari sanalah kita disiapkan.
Untuk melewati satu menit ke depan, satu jam lagi, satu hari, atau sesuatu yang bahkan belum terpikirkan.
Karena hidup bisa berubah kapan saja.
Hari Minggu mengingatkan kita akan itu, tanpa rasa takut.

Hari untuk mempersiapkan segala sesuatu.
Menguatkan tujuan, cita-cita, dan harapan hidup.

Hari Minggu, hari baik untuk membawa kita semua pulang kepada keluarga masing-masing;
suami kepada istri, istri kepada suami, anak-anak kepada orang tua, pun sebaliknya.
Juga kepada sesama sanak saudara dan saudari.
Karena setiap kita berasal dari keluarga, tempat bersandar dan saling menopang di dunia yang keras ini.

Semua kita akan melewati hari-hari itu.
Menapaki satu minggu yang akan datang dengan iman yang diperbarui,
dengan asa yang tetap bernyala,
dan pengabdian yang tetap bernyawa.

Tuhan sertamu selalu.
Salam sejahtera…

Eng di Kuneru, 18 Januari 2026

 

Friday, January 16, 2026

Fenomena Kenaikan Harga Emas Sepanjang Sejarah. Mengapa Selalu Menarik?

Sejak lama, emas telah menempati posisi istimewa dalam kehidupan manusia. Emas bukan sekadar logam mulia, tetapi simbol nilai, kepercayaan, dan ikatan. Cincin perkawinan terbuat dari emas. Mahar perkawinan lebih didominasi produk emas. Diberbagai  budaya, peristiwa-peristiwa penting dalam hidup hampir selalu “diikat” dengan emas.

Pertanyaannya kemudian sederhana namun menarik, “mengapa emas terus bertahan, bahkan cenderung naik nilainya dari waktu ke waktu?”

ilustrasi emas sebagai simbol nilai dan waktu dalam genggaman manusia

Bukan hanya dalam tradisi, emas juga hadir dalam dunia modern. Hampir semua perangkat elektronik, telepon genggam, laptop, televisi, PC, mengandung komponen emas dalam jumlah kecil. Itulah sebabnya para pekerja rongsokan rajin mengumpulkan perangkat elektronik bekas. Emas dipilih bukan tanpa alasan: ia konduktor yang sangat baik, tahan korosi, dan memiliki kualitas tinggi yang sulit digantikan. Itulah makanya, emas adalah standar mutu, secara simbolik maupun fungsional.

Jika kita menoleh ke belakang, mencermati sejarah perkembangannya,  ada satu hal yang relatif konsisten dalam sejarah ekonomi dunia yakni kecenderungan kenaikan nilai emas dalam jangka panjang. Meski dari sisi harga, kadang naik dan turun dalam jangka pendek, emas toh tetap menarik perhatian, baik bagi investor besar maupun masyarakat umum; karena sejatinya; Emas tetap menanjak nilainya.

Berikut ini adalag beberapa alasan, kenapa emas memiliki daya tarik yang begitu kuat?

1. Emas Bukan Sekadar Logam, tapi Simbol Nilai

Sejak ribuan tahun lalu, emas digunakan sebagai alat tukar dan penyimpan nilai. Berbeda dengan uang kertas yang dapat dicetak tanpa batas, jumlah emas di dunia terbatas. Keterbatasan inilah yang memberi emas nilai intrinsik dan membuatnya relatif tahan terhadap inflasi.

Ketika nilai mata uang melemah atau kepercayaan terhadap sistem keuangan menurun, emas sering kali menjadi tempat berlindung alias safe haven, dan ini menjadi pilihan banyak orang.

2. Inflasi dan Ketidakpastian Global

Sepanjang sejarah, manusia selalu hidup berdampingan dengan ketidakpastian: Inflasi, Krisis ekonomi, Konflik geopolitik, Perubahan kebijakan moneter yang sulit diprediksi.

Dalam kondisi seperti ini, kepercayaan terhadap mata uang atau instrumen keuangan tertentu bisa goyah. Namun eksistensi Emas, dengan reputasinya yang panjang, hadir sebagai alternatif yang dianggap lebih stabil. Ketika permintaan meningkat, harga pun terdorong naik.

3. Peran Bank Sentral dan Investor Besar

Banyak bank sentral dunia masih menyimpan emas sebagai cadangan negara. Ketika bank-bank sentral menambah cadangan emas, pasar menangkap sinyal kuat bahwa emas tetap dipandang sebagai aset strategis.

Hal yang sama dilakukan investor besar dan institusi keuangan. Saat pasar saham atau obligasi dianggap berisiko, dana sering dialihkan ke emas. Dampaknya sederhana: permintaan naik, harga dengan sendirinya mengikuti.

4. Fluktuasi Jangka Pendek vs Nilai Jangka Panjang

Untuk point ini, penting untuk membedakan dua hal : 1) Fluktuasi jangka pendek (harian atau mingguan), dan 2)  Tren jangka panjang.

Harga emas bisa turun tajam dalam waktu singkat akibat sentimen pasar, perubahan suku bunga, atau penguatan dolar. Namun jika kita melihat grafik puluhan tahun, arah besarnya tetap menunjukkan kenaikan. Di sinilah emas dipahami bukan sebagai alat spekulasi semata, melainkan sebagai pelindung nilai.

5. Relevansi Emas di Era Modern

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, mulai dari saham digital hingga aset kripto, emas tidak kehilangan perannya. Justru sebaliknya, emas semakin mudah diakses melalui berbagai bentuk, antara lain : Emas fisik, tabungan emas, dan kontrak derivatif dan instrumen trading.

Intinya, Emas tetap relevan; yang berubah hanyalah cara manusia berinteraksi dengannya.

Penutup

Fenomena kenaikan harga emas dari waktu ke waktu bukanlah kebetulan. Ia lahir dari kombinasi sejarah panjang, keterbatasan sumber daya, psikologi manusia, dan dinamika global.

Memahami emas bukan soal ikut-ikutan tren, melainkan memahami fungsinya sebagai pelindung nilai dan alat diversifikasi. Dengan pemahaman yang tenang dan utuh, emas dapat menjadi bagian penting dalam perencanaan keuangan jangka panjang, berjalan perlahan, tapi konsisten.

Diatas segalanya, Nilai emas pasti dan selalu ada di tangan manusia, bukan sekadar di pasar.

Eng di Kuneru, 16 Januari 2026

Menulis Kembali, Setelah Sekian Lama

Ada masa ketika laman ini sunyi...

Bukan karena tidak ada yang ingin dikatakan, melainkan karena hidup seringkali menuntut kita untuk lebih banyak berjalan daripada menulis. Kata-kata tertahan di kepala, pengalaman menumpuk di dada, sementara waktu terus bergerak tanpa menunggu siapa pun.

Blog ini lahir bertahun-tahun lalu, ketika menulis masih terasa sebagai cara paling jujur untuk berbicara dengan diri sendiri dan dengan dunia. Tidak untuk mengejar jumlah pembaca, apalagi popularitas, melainkan sekadar meninggalkan jejak: bahwa kita pernah berpikir, pernah gelisah, dan pernah peduli, pernah punya cita-cita, dan ini dan terus hidup seusia lamanya hidup.

Hari ini, saya kembali membuka halaman ini dengan kesadaran yang berbeda. Usia bertambah, pengalaman menebal, tetapi banyak persoalan ternyata tidak benar-benar berubah. Pendidikan masih menjadi harapan yang tertatih, keadilan masih sering terasa jauh, dan manusia kecil masih kerap berdiri sendirian di persimpangan hidupnya.

Menulis kembali bukan berarti mengulang masa lalu, melainkan "berdialog dengannya". Apa yang dulu saya tulis, hari ini saya baca ulang—bukan untuk disesali, tetapi untuk dipahami. Jika sebagian tulisan terasa naif, itu wajar. Jika sebagian lain masih relevan, itu justru pertanyaan besar bagi kita semua.

Blog ini akan berjalan pelan. Tidak rutin mengejar algoritma. Tidak sibuk memburu sensasi. Ia akan diisi catatan-catatan kecil tentang manusia, pendidikan, dan kehidupan sehari-hari—dari sudut pandang warga biasa yang mencoba tetap waras di tengah dunia yang bising.

Jika Anda menemukan sesuatu di sini yang membuat Anda berhenti sejenak, berpikir, atau sekadar menghela napas, itu sudah lebih dari cukup.

Kita mulai lagi. Pelan-pelan.

Eng di Kuneru, 16 Januari 2026