Sebagian besar anak negeri merayakan
kemerdekaan dengan begitu banyak bentuk kegiatan. Napak tilas perjuangan
merebut kemerdekaan diwujudkan melalui berbagai lomba, mulai dari permainan
rakyat hingga gerak jalan. Ada pula karnaval dan parade yang memenuhi ruas-ruas
jalan kota. Beragam busana, seragam, atribut, atraksi, drum band dan marching
band hadir dalam suasana riang, tanpa sekat usia maupun jenis kelamin.
Di sana, tua muda, laki-laki dan
perempuan, dari berbagai suku dan latar belakang, berjalan bersama dalam satu
suasana. Perbedaan seakan melebur dalam sebuah ruang kebersamaan, dalam Kuali
Cita Rasa Kemerdekaan. Tanpa beban, semua hadir membawa kegembiraan, kebanggaan
dan rasa syukur karena Indonesia masih hidup, berdiri, dan terus berjalan sejajar
di antara bangsa-bangsa dunia.
Di dalam kuali itulah berbagai cita
rasa bertemu. Ada semangat kebangsaan, persaudaraan, kegembiraan, bahkan
harapan. Semuanya berpadu menjadi satu rasa: Indonesia Raya.
Satu cita
rasa yang mendorong bertemunya semangat kebangsaan yang utuh, Indonesia Raya.
Inilah negeri para pejuang, untuk seluruh ahli waris para pejuang kemerdekaan. Di masa lalu, para pahlawan merebut kemerdekaan, generasi setelahnya berjuang mengisi dan membangun kemerdekaan Indonesia itu. Semua hanya untuk membuat jadi nyata cita-cita proklamasi 17 Agustus 1945.
81 tahun
berlalu. Cita-cita proklamasi itu memang belum sejatinya sempurna, tidak mengapa.
Banyaknya persoalan hidup dalam tantangan di masa-masa sulit, terlebih situasi
ekonomi saat ini, Indonesia masih hidup. Rakyatnya masih terus berjuang,
bertahan dalam gempuran kebijakan negara.
Meski isi
kantong masih senin kamis, relasi sosial kadang meresahkan, urusan keputusan politik
acapkali membingungkan, layanan kesehatan adakalanya menjengkelkan, urusan
makan dan minum hari ini faktanya masih jadi soal buat ribuan manusia Indonesia, masih banyak lagi. Lalu,
apakah lalu itu semua membikin kita patah dan kehilangan nyawa Indonesia? Tentu
tidak!.
Nyatanya, kita semua masih bisa melewati malam di bawah cakrawala Indonesia, tanpa desingan peluru, dan dentuman bom, hujaman meriam dalam sebuah konflik perang. Sesulit apapun tantangan hidup itu, toh semua kita masih berkesempatan untuk menjawab kebutuhan hidup masing-masing dalam suasana Indonesia yang aman dan damai. Generasi yang lahir dan bertumbuh, pun ada dalam suasana itu pula.
Diheningku, rasa syukur itu aku panjatkan. Tuhanku, terima kasih telah menitipkan aku di tanah air Indonesia ini. Dari jaman moyangku, orangtua hingga anak-anak kami. Dengan jujur dan berani, dengan bangga dan ikhlas mengaku, “Kami anak Negeri Ini” , hingga akhir menutup mata.
Dirgahayu Kemerdekaan
Republik Indonesia ke – 81, sekali Merdeka, tetap Merdeka!
Eng di Kuneru, 14 Agustus 2026






