Sunday, February 22, 2026

"Scroll"

Jari kita bergerak hampir tanpa sadar. Satu layar turun, lalu yang lain menyusul, seperti halaman-halaman yang tak pernah benar-benar selesai dibaca. Dunia tersaji begitu  cepat, sama cepatnya dengan lewat di depan mata. Wajah, sendiri, ramai-ramai, kabar, tawa, kemarahan, inovasi, harapan; segala tema, beragam makhluk, segala usia dan jenis kelamin. Semuanya hadir. Hanya sesaat sebelum menghilang ke bawah layar.

Kita menyebutnya scroll, gerakan kecil yang tampak sederhana, tetapi mungkin itulah cara manusia modern berjalan: terus menuju perhentian berikutnya tanpa benar-benar tinggal di mana pun.

Kadang terasa hidup ini sendiri seperti jutaan lembaran yang terus berganti. Kita membaca sedikit, memahami sebagian, lalu melanjutkan lagi, seolah ada sesuatu di depan sana yang lebih penting untuk ditemukan. Namun semakin jauh kita bergerak, semakin samar pertanyaan yang diam-diam mengikuti: apakah kita sedang mencari sesuatu… atau hanya takut berhenti?

Di antara gerakan yang tak henti itu, mungkin ada satu hal yang sebenarnya kita tunggu, satu titik diam. Tempat di mana jari tidak lagi tergesa, pikiran tidak lagi berpindah, dan kita akhirnya tinggal cukup lama untuk merasakan bahwa kita benar-benar hadir.

Kita terus scroll, bukan karena ingin melihat lebih banyak, tetapi karena belum menemukan sesuatu yang cukup membuat kita berhenti.

Layar terus bergerak ke bawah, sementara hati diam-diam mencari satu halaman yang terasa seperti pulang. Di balik gerakan tanpa henti itu, mungkin yang kita cari bukan hal baru, melainkan satu titik diam.

Kita tidak lelah melihat dunia; kita hanya lelah tidak menemukan tempat untuk tinggal sejenak. Scroll membawa kita melewati banyak cerita, tetapi jarang membawa kita kembali kepada diri sendiri.

Hidup terasa seperti jutaan lembaran yang terus berganti, dan kita terus bergerak, berharap ada satu halaman yang akhirnya cukup. Mungkin yang membuat kita terus menggeser layar bukan rasa ingin tahu, melainkan harapan kecil bahwa di bawah sana ada sesuatu yang mengerti kita.

Pada akhirnya, setiap scroll adalah perjalanan menuju kemungkinan sederhana: menemukan alasan untuk diam.

Eng di Kuneru, 22 Februari 2026

Saturday, February 21, 2026

19.54 Wita – Malam di Pasar Baru Atambua

Gerimis sejak senja belum ada tanda-tanda berhenti.

Ini suasana di tepi jalan, pedagang kecil buah sayuran  lokal telah menghampar jualannya, hampir disepanjang Jalan Pramuka, persis dalam jantung Pasar Baru Atambua.

Lampu kendaraan hilir mudik memantul di jalan basah. Beberapa emak duduk menjaga jualannya, tanpa tutup kepala, hanya beberapa inci dari roda kendaraan yang melintas. Tubuh mereka hampir sejajar dengan sayur dan buah yang dihampar di atas karung plastik, seolah malam itu mereka dan dagangannya menjadi satu.

Dari cerita emak-emak disitu, mereka sudah ada sejak sore, datang dari Oenopu. Itu satu tempat di Wilayah Kabupaten tetangga, TTU.  Berjarak kurang lebih 40 km dari Atambua. Beberapa pedagang lain, berasal dari TTU, namun sebagian besar pedagang datang dari pelosok desa di Kabupaten Belu.

Siklus perputaran uang dari pedagang-pedagang kecil ini memberi dampak hidupnya kota, tak kenal musim. Padahal sudah dua minggu ini, curah hujan dengan intensitas tinggi, nyaris hanya menyisakan satu dua hari kering.

Malam ini mereka bertahan, menutup jualannya pukul sembilan malam, lalu tidur di emperan toko, menanti pagi untuk kembali berjualan. Demi hidup yang harus ditebus.
Istriku Bernadetha membeli satu sisir pisang emas seharga sepuluh ribu rupiah. Kami pulang. Namun pikiranku masih tertinggal di sana.

Eng di Pasar Baru, 21 Februari 2026  

Friday, February 20, 2026

Dipanggil untuk Kembali

Hari ini kita memulai Jalan Salib pertama dalam masa pertobatan. Kita datang bukan sebagai orang yang sempurna, tetapi sebagai manusia yang sering lemah dan jatuh. Abu di kening beberapa hari lalu mengingatkan kita bahwa hidup ini rapuh dan sementara. Namun justru dalam kerapuhan itulah Tuhan memanggil kita untuk kembali.

Yesus memulai jalan penderitaan-Nya dengan ketaatan yang sunyi, Ia berjalan karena kasih.

Jalan Salib hari ini mengajak kita berhenti sejenak dari kesibukan hidup, melihat ke dalam hati, dan bertanya dengan jujur: ke mana arah hidupku selama ini?

Pertobatan tidak selalu berarti perubahan besar sekaligus. Kadang pertobatan dimulai dari langkah kecil — hati yang mau mengampuni, kata-kata yang lebih lembut, atau waktu doa yang sederhana namun tulus.

Hari ini Tuhan tidak menuntut kita menjadi suci seketika. Ia hanya mengundang kita untuk melangkah kembali kepada-Nya. Satu langkah kecil, tetapi dengan hati yang terbuka.

Semoga perjalanan Jalan Salib ini menjadi awal pembaruan hidup kita, agar perlahan kita berjalan semakin dekat dengan kasih Tuhan, yang selalu menunggu tanpa lelah.

Semoga Tuhan Yesus, menuntun langkah awal pertobatan ini, menuntun kita kembali kepada-Nya dengan rendah hati dan penuh harapan. 


Eng di Kuneru, 20 Februari 2026 

Thursday, February 19, 2026

Rabu Abu — Gerbang Pertobatan Menuju Kebangkitan

Rasanya belum lama kita merayakan Natal, namun perjalanan iman kembali membawa umat Katolik memasuki masa pra-Paskah, sebuah lorong waktu selama empat puluh hari untuk hening, merenung, dan bertobat. Abu yang ditorehkan di kening menjadi pengingat sederhana namun mendalam: manusia berasal dari tanah dan akan kembali menjadi tanah; hidup hanya karena kasih Allah, sementara segala yang duniawi hanyalah sementara.


Tanah itu rapuh — sebagaimana manusia yang mudah jatuh dalam kelemahan dan kesalahan. Karena itu, masa ini bukan waktu untuk takut, melainkan kesempatan untuk kembali. Melalui doa, puasa, dan karya kasih, hati dimurnikan dan arah hidup diperbarui.

Abu bukan tanda akhir, tetapi awal perjalanan batin. Dari kesadaran akan kefanaan menuju harapan akan kebangkitan. Empat puluh hari ini adalah undangan untuk menjadi manusia baru — lebih rendah hati, lebih penuh kasih, dan lebih dekat kepada-Nya yang menjadi sumber kehidupan.

 

Seorang Debu di Kuneru, 19 Februari  2026