Jari kita bergerak hampir tanpa sadar. Satu layar turun, lalu yang lain menyusul, seperti halaman-halaman yang tak pernah benar-benar selesai dibaca. Dunia tersaji begitu cepat, sama cepatnya dengan lewat di depan mata. Wajah, sendiri, ramai-ramai, kabar, tawa, kemarahan, inovasi, harapan; segala tema, beragam makhluk, segala usia dan jenis kelamin. Semuanya hadir. Hanya sesaat sebelum menghilang ke bawah layar.
Di antara gerakan yang tak henti
itu, mungkin ada satu hal yang sebenarnya kita tunggu, satu titik diam. Tempat
di mana jari tidak lagi tergesa, pikiran tidak lagi berpindah, dan kita
akhirnya tinggal cukup lama untuk merasakan bahwa kita benar-benar hadir.
Kita terus scroll, bukan karena
ingin melihat lebih banyak, tetapi karena belum menemukan sesuatu yang cukup
membuat kita berhenti.
Layar terus bergerak ke bawah,
sementara hati diam-diam mencari satu halaman yang terasa seperti pulang. Di
balik gerakan tanpa henti itu, mungkin yang kita cari bukan hal baru, melainkan
satu titik diam.
Kita tidak lelah melihat dunia; kita
hanya lelah tidak menemukan tempat untuk tinggal sejenak. Scroll membawa kita
melewati banyak cerita, tetapi jarang membawa kita kembali kepada diri sendiri.
Hidup terasa seperti jutaan lembaran
yang terus berganti, dan kita terus bergerak, berharap ada satu halaman yang
akhirnya cukup. Mungkin yang membuat kita terus menggeser layar bukan rasa
ingin tahu, melainkan harapan kecil bahwa di bawah sana ada sesuatu yang
mengerti kita.
Pada akhirnya, setiap scroll adalah
perjalanan menuju kemungkinan sederhana: menemukan alasan untuk diam.
Eng di Kuneru,
22 Februari 2026
