Tanah
itu rapuh — sebagaimana manusia yang mudah jatuh dalam kelemahan dan kesalahan.
Karena itu, masa ini bukan waktu untuk takut, melainkan kesempatan untuk
kembali. Melalui doa, puasa, dan karya kasih, hati dimurnikan dan arah hidup
diperbarui.
Abu bukan tanda akhir, tetapi awal
perjalanan batin. Dari kesadaran akan kefanaan menuju harapan akan kebangkitan.
Empat puluh hari ini adalah undangan untuk menjadi manusia baru — lebih rendah
hati, lebih penuh kasih, dan lebih dekat kepada-Nya yang menjadi sumber
kehidupan.
Seorang Debu di Kuneru, 19 Februari 2026
