Tuesday, September 1, 2026

Kesunyian itu Bernama Membaca!

Hari ini 1 September, Dunia memperingatinya sebagai Hari Menulis. Maka malam ini saya ingin menulis.

Dan pertanyaan ini muncul lebih awal, masih pentingkah menulis, ketika dunia semakin ramai dengan video, gambar bergerak, dan suara yang datang tanpa harus kita baca?

 

Kita hidup dalam zaman yang bergerak cepat.

Sebuah cerita dapat hadir dalam hitungan detik. Kita melihat, mendengar, lalu berpindah kepada cerita berikutnya. Membaca seolah-olah menjadi sesuatu yang pelan. Bahkan mungkin, bagi sebagian orang, terasa seperti kebiasaan dari masa lalu.

 

Tetapi saya masih memilih menulis.

Karena saya percaya, ada sesuatu yang tidak selesai hanya dengan melihat dan mendengar.

Mesti ada sesuatu yang perlu kita baca, dan bukankah semuanya bermula dari sana?

Seseorang menulis, yng lain membaca.

Lalu pembaca berpikir.

Dari pikiran itu, mungkin lahir sebuah pertanyaan.

Dari pertanyaan, lahir sebuah gagasan.

Dan mungkin, dari gagasan itu, seseorang kembali menulis.

Begitulah kata-kata berjalan dari manusia ke manusia.

Dari satu zaman ke zaman berikutnya.

 

Maka membaca, bagi saya, bukan sekadar menerima tulisan. 

Membaca adalah memasuki sebuah kesunyian.

Bukan kesunyian karena tak bersuara, tetapi kesunyian ketika kita akhirnya mempunyai kesempatan untuk mendengar suara dari dalam diri sendiri.

 

Di dalam kesunyian itu, pikiran bisa berkelana.

Tidak mesti kata-kata tinggi menjulang di cakrawala.

Dari sebuah bilik kecil sekalipun, pikiran dapat menangkap irama semesta.

Dan mungkin, pulang ke hati adalah cara paling mungkin untuk menyapa diri sendiri.

 

Karena itu malam ini saya tetap menulis.

Dengan apa yang saya punya.

Sebuah bilik kecil, lampu temaram, hati yang menuntun pikiran, dan gerak ritmis di sepuluh jari.

 

Saya menulis karena saya ingin seseorang membaca.

Dan saya membaca karena mungkin, dari sana, saya kembali menemukan alasan untuk menulis.

 

Selamat Hari Menulis.

Mari menulis demi menjaga mata rantai peradaban kata

Mari membaca.

Sebab di tengah dunia yang semakin ramai oleh suara, kesunyian itu bernama membaca.

 

Eng di Kuneru, 1 September 2026