Gerimis sejak senja belum ada tanda-tanda berhenti.
Ini suasana di tepi jalan, pedagang kecil buah sayuran lokal telah menghampar jualannya, hampir disepanjang
Jalan Pramuka, persis dalam jantung Pasar Baru Atambua.
Dari cerita emak-emak disitu, mereka sudah ada sejak sore, datang
dari Oenopu. Itu satu tempat di Wilayah Kabupaten tetangga, TTU. Berjarak kurang lebih 40 km dari Atambua. Beberapa
pedagang lain, berasal dari TTU, namun sebagian besar pedagang datang dari
pelosok desa di Kabupaten Belu.
Siklus perputaran uang dari pedagang-pedagang kecil ini
memberi dampak hidupnya kota, tak kenal musim. Padahal sudah dua minggu ini,
curah hujan dengan intensitas tinggi, nyaris hanya menyisakan satu dua hari
kering.
Malam ini mereka bertahan, menutup jualannya pukul sembilan
malam, lalu tidur di emperan toko, menanti pagi untuk kembali berjualan. Demi
hidup yang harus ditebus.
Istriku Bernadetha membeli satu sisir pisang emas seharga sepuluh ribu rupiah.
Kami pulang. Namun pikiranku masih tertinggal di sana.
Eng di Pasar Baru, 21 Februari 2026
