Saturday, February 21, 2026

19.54 Wita – Malam di Pasar Baru Atambua

Gerimis sejak senja belum ada tanda-tanda berhenti.

Ini suasana di tepi jalan, pedagang kecil buah sayuran  lokal telah menghampar jualannya, hampir disepanjang Jalan Pramuka, persis dalam jantung Pasar Baru Atambua.

Lampu kendaraan hilir mudik memantul di jalan basah. Beberapa emak duduk menjaga jualannya, tanpa tutup kepala, hanya beberapa inci dari roda kendaraan yang melintas. Tubuh mereka hampir sejajar dengan sayur dan buah yang dihampar di atas karung plastik, seolah malam itu mereka dan dagangannya menjadi satu.

Dari cerita emak-emak disitu, mereka sudah ada sejak sore, datang dari Oenopu. Itu satu tempat di Wilayah Kabupaten tetangga, TTU.  Berjarak kurang lebih 40 km dari Atambua. Beberapa pedagang lain, berasal dari TTU, namun sebagian besar pedagang datang dari pelosok desa di Kabupaten Belu.

Siklus perputaran uang dari pedagang-pedagang kecil ini memberi dampak hidupnya kota, tak kenal musim. Padahal sudah dua minggu ini, curah hujan dengan intensitas tinggi, nyaris hanya menyisakan satu dua hari kering.

Malam ini mereka bertahan, menutup jualannya pukul sembilan malam, lalu tidur di emperan toko, menanti pagi untuk kembali berjualan. Demi hidup yang harus ditebus.
Istriku Bernadetha membeli satu sisir pisang emas seharga sepuluh ribu rupiah. Kami pulang. Namun pikiranku masih tertinggal di sana.

Eng di Pasar Baru, 21 Februari 2026