Hari Minggu rasanya tidak pernah
benar-benar berubah.
Ia datang lagi, dengan cara yang sama. Tenang, pelan, dan setia. Tidak
terburu-buru.
Dan entah mengapa, selalu tinggal
lebih lama di batin.
Atas nama pesan tentang hubungan manusia dengan Pencipta-Nya, tentang manusia
dengan sesamanya, pula tentang manusia dengan tempat di mana kita hidup.
Lalu mengalir ke muara kerinduan untuk pulang kepada perintah-Nya.
Bukankah kita sungguh ada pada-Nya
setiap hari?
Dalam doa singkat, dalam ucapan syukur di saat senang, dan keluhan yang terucap
diam-diam.
Dia yang tidak terlihat itu, rasanya sedang ada di hadapan kita, menyaksikan
akrobat hidup yang kita kerjakan.
Hari Minggu, hari baik untuk belajar
berserah tanpa menyerah.
Belajar untuk yakin dan percaya tanpa harus memahami segalanya.
Belajar untuk pulang kepada-Nya, meski langkah kaki masih mengurai bumi, namun
hati kita tahu ke mana ia harus kembali.
Lalu mengapa Hari Minggu terasa
begitu lebih spesifik, begitu berbeda?
Boleh jadi, di hari yang “Minggu”
ini, kita berhenti sebentar.
Bukan untuk menjauh dari dunia, tapi untuk berada lebih dekat kepada-Nya.
Karena menurutku, perjumpaan dengan-Nya tidak mesti selalu ramai.
Segala urusan hidup yang terlampau hiruk-pikuk itu, menjadi sunyi di
hadapan-Nya.
Dan dari sanalah kita disiapkan.
Untuk melewati satu menit ke depan, satu jam lagi, satu hari, atau sesuatu yang
bahkan belum terpikirkan.
Karena hidup bisa berubah kapan saja.
Hari Minggu mengingatkan kita akan itu, tanpa rasa takut.
Hari untuk mempersiapkan segala
sesuatu.
Menguatkan tujuan, cita-cita, dan harapan hidup.
Hari Minggu, hari baik untuk membawa
kita semua pulang kepada keluarga masing-masing;
suami kepada istri, istri kepada suami, anak-anak kepada orang tua, pun
sebaliknya.
Juga kepada sesama sanak saudara dan saudari.
Karena setiap kita berasal dari keluarga, tempat bersandar dan saling menopang
di dunia yang keras ini.
Semua kita akan melewati hari-hari
itu.
Menapaki satu minggu yang akan datang dengan iman yang diperbarui,
dengan asa yang tetap bernyala,
dan pengabdian yang tetap bernyawa.
Tuhan sertamu selalu.
Salam sejahtera…
Eng di Kuneru, 18 Januari 2026
