Hari ini kita memulai Jalan Salib pertama dalam masa pertobatan. Kita datang bukan sebagai orang yang sempurna, tetapi sebagai manusia yang sering lemah dan jatuh. Abu di kening beberapa hari lalu mengingatkan kita bahwa hidup ini rapuh dan sementara. Namun justru dalam kerapuhan itulah Tuhan memanggil kita untuk kembali.
Yesus memulai jalan penderitaan-Nya dengan ketaatan yang
sunyi, Ia berjalan karena kasih.
Jalan
Salib hari ini mengajak kita berhenti sejenak dari kesibukan hidup, melihat ke
dalam hati, dan bertanya dengan jujur: ke mana arah hidupku selama ini?
Pertobatan
tidak selalu berarti perubahan besar sekaligus. Kadang pertobatan dimulai dari
langkah kecil — hati yang mau mengampuni, kata-kata yang lebih lembut, atau
waktu doa yang sederhana namun tulus.
Hari
ini Tuhan tidak menuntut kita menjadi suci seketika. Ia hanya mengundang kita
untuk melangkah kembali kepada-Nya. Satu langkah kecil, tetapi dengan hati yang
terbuka.
Semoga
perjalanan Jalan Salib ini menjadi awal pembaruan hidup kita, agar perlahan
kita berjalan semakin dekat dengan kasih Tuhan, yang selalu menunggu tanpa
lelah.
Semoga
Tuhan Yesus, menuntun langkah awal pertobatan ini, menuntun kita kembali
kepada-Nya dengan rendah hati dan penuh harapan.
Eng di Kuneru, 20 Februari 2026
