Thursday, February 19, 2026

Rabu Abu — Gerbang Pertobatan Menuju Kebangkitan

Rasanya belum lama kita merayakan Natal, namun perjalanan iman kembali membawa umat Katolik memasuki masa pra-Paskah, sebuah lorong waktu selama empat puluh hari untuk hening, merenung, dan bertobat. Abu yang ditorehkan di kening menjadi pengingat sederhana namun mendalam: manusia berasal dari tanah dan akan kembali menjadi tanah; hidup hanya karena kasih Allah, sementara segala yang duniawi hanyalah sementara.


Tanah itu rapuh — sebagaimana manusia yang mudah jatuh dalam kelemahan dan kesalahan. Karena itu, masa ini bukan waktu untuk takut, melainkan kesempatan untuk kembali. Melalui doa, puasa, dan karya kasih, hati dimurnikan dan arah hidup diperbarui.

Abu bukan tanda akhir, tetapi awal perjalanan batin. Dari kesadaran akan kefanaan menuju harapan akan kebangkitan. Empat puluh hari ini adalah undangan untuk menjadi manusia baru — lebih rendah hati, lebih penuh kasih, dan lebih dekat kepada-Nya yang menjadi sumber kehidupan.

 

Seorang Debu di Kuneru, 19 Februari  2026

Monday, January 19, 2026

Ini... Senin

 "Bukan Senin yang kita benci, melainkan hidup yang rela (atau terpaksa) kita ulangi.”


Eng di Kuneru, 19 Januari 2026

Sunday, January 18, 2026

Selamat Hari Minggu…












Hari Minggu rasanya tidak pernah benar-benar berubah.
Ia datang lagi, dengan cara yang sama. Tenang, pelan, dan setia. Tidak terburu-buru.

Dan entah mengapa, selalu tinggal lebih lama di batin.
Atas nama pesan tentang hubungan manusia dengan Pencipta-Nya, tentang manusia dengan sesamanya, pula tentang manusia dengan tempat di mana kita hidup.
Lalu mengalir ke muara kerinduan untuk pulang kepada perintah-Nya.

Bukankah kita sungguh ada pada-Nya setiap hari?
Dalam doa singkat, dalam ucapan syukur di saat senang, dan keluhan yang terucap diam-diam.
Dia yang tidak terlihat itu, rasanya sedang ada di hadapan kita, menyaksikan akrobat hidup yang kita kerjakan.

Hari Minggu, hari baik untuk belajar berserah tanpa menyerah.
Belajar untuk yakin dan percaya tanpa harus memahami segalanya.
Belajar untuk pulang kepada-Nya, meski langkah kaki masih mengurai bumi, namun hati kita tahu ke mana ia harus kembali.

Lalu mengapa Hari Minggu terasa begitu lebih spesifik, begitu berbeda?

Boleh jadi, di hari yang “Minggu” ini, kita berhenti sebentar.
Bukan untuk menjauh dari dunia, tapi untuk berada lebih dekat kepada-Nya.
Karena menurutku, perjumpaan dengan-Nya tidak mesti selalu ramai.
Segala urusan hidup yang terlampau hiruk-pikuk itu, menjadi sunyi di hadapan-Nya.

Dan dari sanalah kita disiapkan.
Untuk melewati satu menit ke depan, satu jam lagi, satu hari, atau sesuatu yang bahkan belum terpikirkan.
Karena hidup bisa berubah kapan saja.
Hari Minggu mengingatkan kita akan itu, tanpa rasa takut.

Hari untuk mempersiapkan segala sesuatu.
Menguatkan tujuan, cita-cita, dan harapan hidup.

Hari Minggu, hari baik untuk membawa kita semua pulang kepada keluarga masing-masing;
suami kepada istri, istri kepada suami, anak-anak kepada orang tua, pun sebaliknya.
Juga kepada sesama sanak saudara dan saudari.
Karena setiap kita berasal dari keluarga, tempat bersandar dan saling menopang di dunia yang keras ini.

Semua kita akan melewati hari-hari itu.
Menapaki satu minggu yang akan datang dengan iman yang diperbarui,
dengan asa yang tetap bernyala,
dan pengabdian yang tetap bernyawa.

Tuhan sertamu selalu.
Salam sejahtera…

Eng di Kuneru, 18 Januari 2026