Thursday, August 10, 2017

Diktator

Satu kata ini lagi ramai di Elit tanah air hari-hari ini, bahkan menjelang Perayaan HUT ke-72 Kemerdekaan RI.


Itu foto langsung dari halaman 264, pojok kanan bawah Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga, cetakan Balai Pustaka tahun 2002.
Agar kata ini kemudian tidak mengandung pengertian yang dibuat "semena-mena" oleh siapa saja yang kepingin pakai kata ini untuk menuding orang lain. Sayangnya, kata ini tidak punya makna kiasan. Jadi, begitu diucapkan: baik komunikan maupun audiens berada dalam derajat pemahaman yang mestinya sama. semua terikat dengan pengertian yang substansial, yaitu 1) Kepala Pemerintahan yang mempunyai kekuasaan mutlak, dan 2)biasanya diperoleh melalui kekerasaan atau dengan cara yang tidak demokratis.

Atas fakta itu, kemudian jika diproyeksikan kepada situasi Indonesia belakangan, adalah tidak tepat karena sama sekali tidak memenuhi dua definisi diatas. Kekuasaan Presiden telah diatur dalam UUD 1945, terbatas, alias Tidak Mutlak. Lalu, Pemilu Presiden dan Wakil Presiden Indonesia tahun 2014 berlangsung demokratis, aman dan damai. Menyatakan hal yang sebaliknya bisa jadi sebuah kebohongan kepada publik, yang terlibat langsung, berproses bersama membangun demokrasi di tanah air.

Urusan gagal paham macam begini semoga tidak lagi pakai alasan  "atas nama rakyat" karena itu justeru menghina kedaulatan rakyat yang telah terselenggaranya secara pantas dalam Pemilu yang berjalan diatas landasan konstitusional. Tak eloklah bila ditabrakkan karena perbedaan kepentingan politik kelompok.

Surabaya, 10 Agustus 2017

Sampai Jumpa Lagi Mata Najwa!



Memulai di November 2009, Selesai 511 episode, dalam tujuh tahun berkarya sampai Agustus 2017.

Pagi ini, 9 Agustus 2017. Semestinya aku bahagia selepas memberi ucapan selamat ulang tahun untuk Kakak perempuan tertuaku, di usianya yang ke-50. Itu tidak bertahan lantaran ada berita di salah satu pojok Jawa Pos “Mata Najwa Tak Mengudara Lagi”. Setengah tidak percaya, itu berita kubaca ulang dua kali. Alhasil, itu artinya bahwa setiap Rabu malam nanti, terhitung September 2017, tidak ada lagi acara Mata Najwa. 

Ada apa dengan Tuan rumah Mata Najwa? Jawabannya baru aku dapat sore hari, ditambah info dari twitter bahwa acara Mata Najwa malam hari nanti akan diisi oleh kawan-kawannya mewakili sang Tuan rumah. Gundahku kambuh.

Dan malam harinya, benar-benar kejadian; tidak ada Tuan Rumah. Acara Mata Najwa di Metro TV malam hari, dirilis dengan menyajikan kembali serangkaian Acara Mata Najwa di sejumlah daerah, ragam topic, jamak tendensi, tapi tujuan cuma satu; mengingatkan semua orang yang menjadi narasumber ataupun hadir dalam acara, ataupun siapapun yang menyaksikan langsung maupun pemirsa dirumah;  bahwa pers dan demokrasi sejatinya harus dipakai untuk kesejahteraan rakyat, mulai dari menggagas sampai pada tindakan nyata. Itu mudah ditangkap dari pesan yang terungkap dari mulai sessi “Perempuan-perempuan dalam Kabinet kerja, Sumber Inspirasi, Sidang Rakyat, Komandan Koboi, Bagimu Negeri sampai sisi lain Mata Najwa”. Sebuah model pencerahan yang langsung menghadirkan sumbernya, terurai lugas, memupus spekulasi dan ragamnya analisis situasi ini dan itu, apalagi jika itu sesuatu mengenai politik.

Thursday, February 12, 2015

Kelu

Bayu
Sedayu
Pilu..


Atambua, 11 Februari 2015