Friday, June 26, 2009

Namaku, Deni Saja!

Namaku, Deni Saja. Pagi ini. Hari ketiga untukku di sekolah baru. Aku duduk sendirian di bangku. Ah... perasan kikuk mulai berkurang. Aku sudah mempunyai beberapa orang teman. Ada Devi, Nona, Theresia dan Selvy. Selvy sering dipanggil si pirang. Dia yang paling pendiam diantara teman-teman sekelasku yang lain. "Hey...", tiba-tiba ada yang menepuk bahuku dari belakang. "Pagi-pagi sudah melamun", sambungnya, Kenapa ?, kamu sakit ?.

Ah... anak ini tidak berhenti bertanya. "Tidak !" jawabku singkat. Tapi Devi sudah pergi ke tempat duduknya, seperti tidak ingin mendengar jawabanku. Aku membuat seperti tidak terjadi sesuatu. Padahal, aku begitu kuatir, kalau-kalau si Pengacau, Deny itu tiba-tiba muncul. "huhhh..., menjengkelkan. Aku melamun sambil memandangi Devi, teman yang mengejutkan lamunanku tadi.

Semua orang sudah tahu tabiat Deny. Deny terkenal karena bengalnya. Hampir separuh anak di kelas kami, sudah pernah dibuat menangis. Ada-ada saja ulahnya. Apa lagi ada anak baru. Menurut cerita teman-teman, Deny paling paling tidak suka dengan anak baru. Katanya dapat merebut perhatian orang darinya.Deny sudah sering kali dibicarakan dalam rapat guru-guru. Akibatnya, sudah sering kali juga surat teguran melayang ke rumah Deny.

Wednesday, June 24, 2009

Mambangun Dunia Sendiri

Riskan memang berpikir untuk membangun dunia sendiri. Tetapi apa boleh buat. Dunia ini beragam.
Dan rasa-rasanya kita bisa pening bila diajak untuk membangun dunia ini bersama. Karena setiap orang hadir dengan dunianya sendiri. Cara mereka melukiskan, mendefenisikan bahkan mengaktualisasikan.

Setiap orang punya cita rasa bahkan apresiasi yang berbeda-beda tentang dunia. Yang sama mungkin mungkin ada kesan lahir, kawin (bagi yang sempat) lalu berjuang untuk hidup, lalu mati. Orang karena kebutuhan membangun dunianya telah pula menemukan jalan masing-masing.

Dunia yang akan kita bangun tidak bisa berdiri sendirian. Bisa jadi mirip sarang laba-laba, tergantung dan menjaring dunia lainnya. Dunia siapapun, tetap terdiri dari ribuan segmen kehidupan, komplit dengan segmen-segmen masalah plus peluangnya. Entah dengan alasan apapun.

Monday, June 22, 2009

About this evening..

Salam Netter sekalian... Sore ini saya mampir ke warnet... rekan setiaku, Bung Primus duduk persis di sebelahku.. belum ada 10 menit, teman lamaku datang... Bung Jack... kami diskusi sebentar.. dan ada seloroh lugasnya dengan tatapn tetap lurus kedepan... bunga-bunga kecil disamping kiri dan kananku nyaris tidak dipedulikanntya.. Begini katanya " habis terima amplop gini, makin banyak yang seksi2 dan indah.. " eh, saya kok jadi ingat lagu pelangi-pelangi. ada bait yang terungkap "pelangi-pelangi alangkah indahmu.... .Nah, itu dia... pelangi-pelangi sekarang ada disini nih, cuma ada batas tripleks doang, lagi pada sibuk intenetan... sementara di jauh sana, adik seperjuanganku : Bung Vinsen ngirim berita tentang Ende. Kota Revolusi kami semua. Salam Merdeka untuk teman-teman disana !. lanjutnya nanti saja..