Ada kurang lebih 2 bulan tidak datang ke "rumah bersama"; tadi untung ada Om Leon datang menjemput, terus kami ke kesana.
Musim legislatif baru saja usai, menyisakan begitu banyak pesan dan juga kesan. Ekspresinya beda-beda, tapi cukup punya alasan untuk menggambarkan situasi batin masing-masing orang yang pernah ikut bermain di musim kompetisi itu.
“Catatan dari pinggir, tentang Hidup, manusia dan sekitarnya, ragam tema di Indonesia yang berjalan (masih) perlahan.”
Friday, June 5, 2009
Monday, June 1, 2009
Tentang Sebuah Lukisan
Seorang anak bangun pagi-pagi sekali. Masih jam 4 dini hari. Ia terbangun karena dihampiri wajah seseorang dalam mimpi. Sebut saja ini mimpi nan indah. Karena ia tidak bisa melupakan raut wajah itu, segera batinnya menyuruh untuk membuat sebuah lukisan tentangnya.
Untuk itu, Ia tidak perlu menunggu lama untuk mandi, apalagi sarapan. Di depan kanvas, ia sibuk mencampur-campur warna, terseok-seok memutar-mutar posisi berdiri, duduk, setengah tidur sambil meliuk-liukan kuas kesana kemari.
Hampir setengah hari ia melukis dengan konsentrasi tingkat tinggi. Bagi anak ini, Lukisan adalah karya maha dasyat yang bisa membuat hidupnya berubah. Dasar bukan pelukis. Praktis ia sama sekali tidak bisa membuat lukisan indah seperti dalam mimpinya. Bahkan jauh sekali dari mimpinya. Apa yang ia tampilkan setelah setengah hari bekerja adalah tampilan sebuah wajah yang gersang, kering, yang lebih menyebalkan ternyata ia melukis wajahnya sendiri (Yang notabene sudah bosan hampir dilihatnya tiap hari di depan cermin).
Untuk itu, Ia tidak perlu menunggu lama untuk mandi, apalagi sarapan. Di depan kanvas, ia sibuk mencampur-campur warna, terseok-seok memutar-mutar posisi berdiri, duduk, setengah tidur sambil meliuk-liukan kuas kesana kemari.
Hampir setengah hari ia melukis dengan konsentrasi tingkat tinggi. Bagi anak ini, Lukisan adalah karya maha dasyat yang bisa membuat hidupnya berubah. Dasar bukan pelukis. Praktis ia sama sekali tidak bisa membuat lukisan indah seperti dalam mimpinya. Bahkan jauh sekali dari mimpinya. Apa yang ia tampilkan setelah setengah hari bekerja adalah tampilan sebuah wajah yang gersang, kering, yang lebih menyebalkan ternyata ia melukis wajahnya sendiri (Yang notabene sudah bosan hampir dilihatnya tiap hari di depan cermin).
Hal Keteduhan
Saudara yang baik, Salam sejahtera. Pagi ini masih ada cerita,semoga tidak jenuh.
Suatu ketika seorang Rahib datang ke rumah seorang Yahudi. Dan hari ketika ia datang itu, hari Sabtu. Kebutuhan sang Rahib kali ini adalah meminta pertolongan sang Yahudi untuk membantunya, membuatkan tempat berteduh. “Bu bisa Tolong beta ko!, ini agak darurat. Su mulai ujan, ma atap belum kelar, bisa bantu ko?, pinta agak menghiba dengan dialek Rotenya. Sayang sekali permintaan Sang Rahib tidak terkabul, Sang Yahudi tidak bisa banyak membantu. Ia hanya menjawab pendek “Bu ju datang sonde tau waktu na, ini hari batong ada ibadat. Sorri, sonde bisa diganggu, lain kali sa. Sebabnya, hari itu, hari sabtu. Seperti biasa sang Yahudi yang penganut fanatik Taurat tidak bisa melakukan sesuatu apapun pada hari Sabat itu.
Ketika pulang, sang Rahib Gelisah. Dan ia berdoa memohon ampun pada sang Pencipta untuk memberinya kesempatan bukan untuk siapa-siapa. Tetapi yang pertama-tama bagi dirinya sendiri, untuk bisa mengusir Kegundahan batinnya. Bagi Sang Rahib kalau kegalauan terus menghantuinya, itu sebuah dosa besar. Ada benarnya, karena hari itu ia tidak beroleh keteduhan. Ia berharap beroleh keteduhan dari sahabatnya melalui pertolongan sahabatnya si Yahudi tadi. Apa boleh buat, ia terganjar aturan main hari Sabat.
Suatu ketika seorang Rahib datang ke rumah seorang Yahudi. Dan hari ketika ia datang itu, hari Sabtu. Kebutuhan sang Rahib kali ini adalah meminta pertolongan sang Yahudi untuk membantunya, membuatkan tempat berteduh. “Bu bisa Tolong beta ko!, ini agak darurat. Su mulai ujan, ma atap belum kelar, bisa bantu ko?, pinta agak menghiba dengan dialek Rotenya. Sayang sekali permintaan Sang Rahib tidak terkabul, Sang Yahudi tidak bisa banyak membantu. Ia hanya menjawab pendek “Bu ju datang sonde tau waktu na, ini hari batong ada ibadat. Sorri, sonde bisa diganggu, lain kali sa. Sebabnya, hari itu, hari sabtu. Seperti biasa sang Yahudi yang penganut fanatik Taurat tidak bisa melakukan sesuatu apapun pada hari Sabat itu.
Ketika pulang, sang Rahib Gelisah. Dan ia berdoa memohon ampun pada sang Pencipta untuk memberinya kesempatan bukan untuk siapa-siapa. Tetapi yang pertama-tama bagi dirinya sendiri, untuk bisa mengusir Kegundahan batinnya. Bagi Sang Rahib kalau kegalauan terus menghantuinya, itu sebuah dosa besar. Ada benarnya, karena hari itu ia tidak beroleh keteduhan. Ia berharap beroleh keteduhan dari sahabatnya melalui pertolongan sahabatnya si Yahudi tadi. Apa boleh buat, ia terganjar aturan main hari Sabat.
Subscribe to:
Posts (Atom)