Monday, June 22, 2009

About this evening..

Salam Netter sekalian... Sore ini saya mampir ke warnet... rekan setiaku, Bung Primus duduk persis di sebelahku.. belum ada 10 menit, teman lamaku datang... Bung Jack... kami diskusi sebentar.. dan ada seloroh lugasnya dengan tatapn tetap lurus kedepan... bunga-bunga kecil disamping kiri dan kananku nyaris tidak dipedulikanntya.. Begini katanya " habis terima amplop gini, makin banyak yang seksi2 dan indah.. " eh, saya kok jadi ingat lagu pelangi-pelangi. ada bait yang terungkap "pelangi-pelangi alangkah indahmu.... .Nah, itu dia... pelangi-pelangi sekarang ada disini nih, cuma ada batas tripleks doang, lagi pada sibuk intenetan... sementara di jauh sana, adik seperjuanganku : Bung Vinsen ngirim berita tentang Ende. Kota Revolusi kami semua. Salam Merdeka untuk teman-teman disana !. lanjutnya nanti saja..

Friday, June 5, 2009

Atambua, 5 Juni 2009

Ada kurang lebih 2 bulan tidak datang ke "rumah bersama"; tadi untung ada Om Leon datang menjemput, terus kami ke kesana.
Musim legislatif baru saja usai, menyisakan begitu banyak pesan dan juga kesan. Ekspresinya beda-beda, tapi cukup punya alasan untuk menggambarkan situasi batin masing-masing orang yang pernah ikut bermain di musim kompetisi itu.

Monday, June 1, 2009

Tentang Sebuah Lukisan

Seorang anak bangun pagi-pagi sekali. Masih jam 4 dini hari. Ia terbangun karena dihampiri wajah seseorang dalam mimpi. Sebut saja ini mimpi nan indah. Karena ia tidak bisa melupakan raut wajah itu, segera batinnya menyuruh untuk membuat sebuah lukisan tentangnya.

Untuk itu, Ia tidak perlu menunggu lama untuk mandi, apalagi sarapan.  Di depan kanvas, ia sibuk mencampur-campur warna, terseok-seok memutar-mutar posisi berdiri, duduk, setengah tidur sambil meliuk-liukan kuas kesana kemari.

Hampir setengah hari ia melukis dengan konsentrasi tingkat tinggi. Bagi anak ini, Lukisan adalah karya maha dasyat yang bisa membuat hidupnya berubah.  Dasar bukan pelukis. Praktis ia sama sekali tidak bisa membuat lukisan indah seperti dalam mimpinya. Bahkan jauh sekali dari mimpinya. Apa yang ia tampilkan setelah setengah hari bekerja adalah tampilan sebuah wajah yang gersang, kering, yang lebih menyebalkan ternyata ia melukis wajahnya sendiri (Yang notabene sudah bosan hampir dilihatnya tiap hari di depan cermin).